Sabtu, 18 Februari 2017

Bukan aku yang menjauh, tapi kau yang mengajariku acuh!

Jika aku kecewa, jangan salahkan apa yang bergemuruh di dada. Jangan salahkan rasa yang akhirnya tergilas oleh nestapa. Bukan aku tak ingin mendekat, tapi karena memang tak ada lagi alasan untukku menetap. Kalau ditanya tentang rindu, aku tak bisa membohongi kalbu. Aku juga merasakan rindu. Hingga menjadi sendu. Tenggelam dalam sedu sedan tangis yang tak pernah ku tahu kapan bisa habis.

Entah apa ini hanya pembenaranku semata. Ataukah memang ini kenyataan yang ada. Aku rasa, tak ada yang salah dengan kecewaku. Begitu juga dengan amarahku. Ataupun dengan benciku. Anak gadis mana yang hatinya tak perih jika menerima kenyataan bahwa orang yang selama ini dipujanya ternyata menyajikan ketidaksetiaan? Anak gadis mana yang tak meraung jika orang yang dianggap sebagai malaikat pelindungnya ternyata membuatnya harus terundung dalam duka?

Aku rasa, tak ada satupun perempuan yang ingin terjebak dalam ruang pengkhianatan. Apalagi jika pengkhianatan itu dilakukan oleh orang yang dia anggap sebagai satu-satunya orang yang tak akan pernah melakukannya. Aku katakan sekali lagi, tak mudah menjadi aku. Tak mudah bagiku untuk tetap berdiri dan mengatakan pada dunia bahwa aku baik-baik saja. Bahwa aku tak merasa resah menghadapi gelisah dua orang yang sekarang ada di bawah tanggungjawabku. Aku takut. Aku takut tak bisa membahagiakan mereka. Aku takut tak bisa membuat hidup mereka menjadi nyaman dan aman.

Apa kau tahu segala kekalutan yang aku rasakan sejak kau pergi meninggalkan kami? Apa kau tak menyadari bahwa aku takut punggungku tak kuat untuk menopang mereka?  Apa kau tak merasa bahwa kau telah melalaikan tanggungjawabmu pada kami dan memaksaku untuk menjadi nahkoda? Apa kau lupa bahwa aku masih tak bisa menggunakan kompas yang kau berikan dengan baik? Apa kau memang tak tahu atau tak mau tahu lagi tentang apa yang terjadi pada kami setelah kau pergi?

Ah entahlah. Apa lagi yang harus ku tulis untuk menggambarkan apa yang sedang aku rasakan. Aku seperti sudah kehabisan kata-kata. Jangankan untuk mengungkapkan padamu sebesar apa luka menganga yang kau buat ini, untuk menuliskannya saja aku sudah tak mampu lagi.

Jadi biarkan saja aku dengan lukaku. Tak usah kau coba untuk mengobati perihku. Begitu pun aku. Aku juga akan membiarkanmu menjalani hidup yang kau pilih sendiri tanpa campur tanganku. Biar saja kita sama-sama menyadari bahwa aku sudah tak harus lagi kau dampingi. Dan aku cukup mengerti bahwa aku juga sudah tak lagi memiliki arti.

Kembalilah jika masih ingin kembali. Pergilah jika membersamaiku memang membuatmu lelah. Dengan apa yang selama ini kau ajarkan padaku, aku akan mencoba memampukan diriku. Menjadi punggung yang kokoh agar mereka bisa bersandar padaku. Menjadi kaki yang kuat untuk menopang berat tubuh mereka. Dan menjadi tangan yang tangguh untuk tak melepas genggaman mereka.

Tak usah kau berpikir bahwa aku menjauh. Karena tanpa kau sadari, kau sendirilah yang mengajarkanku untuk acuh. Biarkan saja segalanya menjadi riuh. Karena pada saatnya nanti aku tak akan lagi merasa rapuh. Ada yang akan aku rengkuh. Ada yang akan menenangkan gemuruh.


Aku akan tetap menjadi aku. Kau juga akan tetap menjadi engkau. Dan satu hal yang sama-sama tak bisa kita pungkiri, dalam tubuh kita mengalir darah yang sama.

Selasa, 14 Februari 2017

Apa dengan merebut membuatmu tak bisa merasakan bahagia yang akut?


Hidup memang harus bahagia. Bahagia adalah tujuan dari hidup. Tapi bukan hidup bahagia di atas luka orang lain. Bukan tertawa merasa menang ketika kita memiliki dari hasil merebut. Apa susahnya sih diam tanpa perlu berkoar seakan kau yang paling tersakiti? Seakan kau yang paling benar padahal nyatanya kau sudah melakukan tindakan tak benar?

Katanya, perempuan dimanapun juga, apapun profesinya, bagaimanapun latar belakangnya, dia tetap memiliki jiwa perempuan. Perempuan yang selalu identik dengan kelembutan, tutur kata yang menyejukkan hati, sikap yang mendamaikan jiwa dan hati yang penuh dengan kehangatan cinta. Sekasar-kasarnya perempuan, dia ya tetap perempuan. Lebih menggunakan perasaan dibandingkan logikanya. Tapi setelah menghadapi kenyataan pahit yang lalu ditambah dengan cerita-cerita yang begini ini, ternyata banyak juga perempuan yang tak layak disebut perempuan. Entah, apa hatinya udah dibuat oseng-oseng dan otaknya udah digoreng kering.

Tak ada yang pernah bisa menjamin sedih dan bahagia akan bertahan selamanya. Tak ada yang bisa menjamin, orang yang sekarang jatuh cinta setengah mati bahkan mungkin rela banting tulang sekaligus banting harga siang malam hanya untukmu, keesokan harinya akan jadi orang pertama yang mencampakkanmu seperti yang pernah dia lakukan pada orang-orang sebelummu. Ada yang bisa menjamin itu? Tidak ada! Tak ada yang abadi di dunia ini. Ini hanya kehidupan di dunia. Segalanya bisa berubah.

Tak sadarkah kau apa yang kau miliki sekarang adalah hasil dari merampas bahagia orang lain? Tak ingatkah kau bahwa laki-laki yang sekarang kau panggil suami itu adalah tunangan perempuan yang sudah kau hancurkan harga dirinya? Hey! Kau sudah melakukan kesalahan. Kau telah membuka pintu lebar-lebar untuk sang karma yang sedang menujumu. Dan masih sempat kau mengoyak kembali hati yang mulai pulih ini? Hati yang pernah kau injak hingga terasa mati. Jiwa yang pernah kau buat kosong. Mata yang pernah kau redupkan cahayanya. Iya, itu adalah gambaran diriku ketika kau dengan sengaja datang dan merampas apa yang aku miliki.

Bertahun-tahun aku mendampingi dia. Dari sejak dia menggunakan kakinya untuk berjalan menapaki gemerlap lampu kotaku. Hingga dia mulai bisa mengayuh sepeda sambil memboncengku di belakangnya lalu memintaku berpegang erat pada pinggangnya. Sampai pada saat dia telah bisa mengendarai roda duanya dan mengajakku menikmati panorama kotaku. Tak pernahkah dia memberi tahumu siapa yang tak pernah letih menyokongnya hingga dia bisa seperti sekarang ini? Hingga dia bisa membuatmu duduk manis di sampingnya yang sedang mengemudikan kendaraan beratap itu? Lalu dengan pongahnya kau memposting foto kebersamaan kalian dengan caption,"menikmati weekend bersama suami. Memang yang halal itu lebih menyenangkan". Apa masih layak kau disebut manusia dengan tingkah polah yang tak berakal seperti itu?

Jika iya itu takdir. Jika iya apa yang kau lakukan padaku adalah yang terbaik untuk masa depanku, tak apa. Aku menerima semua sebagai pelajaran terhebat dalam hidupku. Bekal yang cukup untuk menjadi orangtua yang benar. Agar bisa mendidik keturunanku untuk selalu memanusiakan manusia dan menggunakan hatinya jika otaknya sudah memberikan sinyal untuk melakukan hal-hal yang bisa menyakiti hati orang lain.

Aku tahu, tak ada satu orangpun yang sempurna. Aku juga paham, kau tak akan pernah ada dalam kisah yang sedang aku jalani kala itu jika lelaki itu tak membukakan pintu hatinya untukmu. Aku bisa mengerti, jika memang itu adalah jalan hidup kalian. Harus bertemu dengan perantara aku. Tapi tak bisakah kau urus saja bahagiamu tanpa perlu terusik dengan bahagia yang sedang aku bangun? Tak bisakah berhenti memperbincangkan aku dengan kehidupanku yang baru lalu membandingkan dengan kehidupanmu yang katanya bahagia dengan lelaki yang bahkan kau dapat dengan cara merampasnya dari aku? Sebegitu sulitkah kau untuk merasakan bahagia yang hakiki? Sebegitu sulitkah menikmati cinta yang kau bilang halal itu? Hingga kau masih harus meluangkan waktumu untuk menengok aku dan mencoba masuk ke dalam kehidupanku.

Hey! Jika aku mau, bisa saja aku bersikap lebih jahat dari apa yang sudah kau lakukan. Jika aku mau, aku bisa melakukan apa saja untuk membuatmu merasakan bagaimana pedihnya dicampakkan. Tapi aku tak serendah itu. Aku tak perlu mengacaukan hidup orang lain demi bahagiaku sendiri. Atau kau mau bilang, "Ah tidak mungkin aku dicampakkan. Ini kan suamiku. Dia sudah menghalalkanku. Dia sudah berjanji akan selalu bersamaku. Dia mencintaiku dengan sangat". Lupakah kau? Bahwa lelaki yang kau agung-agungkan itu pernah meninggalkan sebuah berlian demi emas berkarat? Dan bisa jadi, dia nanti akan meninggalkan emas berkarat demi sebuah kuningan yang disepuh dan sudah rapuh. Kau masih mau bilang tidak mungkin? Hahaha, kau lupa, tak ada yang tak mungkin jika DIA berkehendak. Kau masih memiliki iman kan? Dan lagipula, sudah banyak contohnya. Punya televisi kan? Pasti pernah dong lihat infotainment tentang rumah tangga yang awalnya romantis sampai bikin orang meringis tapi akhirnya bikin hati teriris? Yakin masih mau bilang bahagiamu bakal selamanya?

Jadi sudahlah. Kau bangun saja istanamu yang dibuat dari pondasi air mata dan sakit hatiku sekaligus keluarga besarku itu. Kau urus saja lelaki yang sudah kau sebut suami itu. Kau didik anakmu, berikan dia pendidikan yang bagus, agar kelak dia bisa jadi orang yang pintar dan berguna, bukan jadi orang ketiga.

Kita lihat saja, seberapa tangguh pondasi istanamu itu. Seberapa kuat komitmen yang dibangun setelah membuat sentimen orang lain. Jika kau merasa istanamu sudah terbangun dan berdiri megah sekaligus kokoh tak akan hancur, tapi bagiku itu tidak. Kemegahan istana yang sedang kau tinggali saat ini bukanlah akhir dari kisah kasih yang kau bangga-banggakan itu. Tapi ini adalah awal dari sebuah film yang nantinya akan menjadi sejarah dan pastinya akan aku ceritakan kelak pada keturunanku. Bahwa semegah apapun istana, bahwa sebahagia apapun rasa, bahwa sekuat apapun cinta, jika itu didapat dari cara yang tidak disukaiNya tentu tak akan pernah bisa abadi dan mendapat surgaNya.

Tak akan pernah ada tanaman yang bisa tumbuh jika kita tak menanam bibitnya. Dan kau. Dan kalian. Telah menanam bibit-bibit itu. Yang kelak, pasti bisa tumbuh subur dan akarnya menjalar kemana saja ia mau.

Sekarang, tak perlulah arogan. Karena mau sembunyi seperti apa juga, karma tidak akan salah tujuan.

Nb : Kalau setelah dijabarkan begini kau masih berulah, berarti emang isi kepalamu entah ketinggalan dimana.

Kupang, 13 Februari 2017
Yualeny Valensia
Based on true story of my unbiological sister 😉