Kamis, 28 April 2016

Aku!

Ada rasa sesak yang menghimpit. Ada rasa penat yang mengakar. Ada rasa jemu yang merajam. Ada rasa ngilu yang menyiksa. Ada rasa pedih yang mengendap.

Kepercayaan yang disalahgunakan. Kesetiaan yang dipatahkan. Kenyamanan yang dienyahkan. Kebahagiaan yang dirampas. Kehilangan yang datang hampir bersamaan.

Tak mudah menjalani dua tahun terakhir ini. Hidup yang tak pernah terbayangkan akan terjadi padaku. Menangis tersedu karena laki-laki yang pertama kali aku lihat saat aku dilahirkan di dunia ini lebih memilih meninggalkan tiga berlian yang selalu dia jaga demi sebutir batu tak bernilai. Merasakan hati yang teramat patah setelah memutuskan untuk membiarkan sosok jangkung berhidung pinokio dan berambut pirang itu mencari sosok wanita yang bisa melafalkan Doa Bapa Kami bersama-sama dalam keluarga kecilnya kelak.  Membuncahnya bahagia saat ada sesosok laki-laki yang menawarkan masa depan tak lama setelah aku meminta padaNya akan sosok yang seiman. Dan menjelang dua minggu kami menjadi pasangan halal, ternyata dia juga memilih pergi, melupakan semua janji yang pernah terpatri, menerbangkan semua harapan dan menghancurkan maket masa depan yang sudah disusun bersama. Tak ada yang tersisa selain bualan-bualan omong kosongnya tentang masa depan yang masih saja terngiang-ngiang dalam telingaku. Tak lama berselang, dia bahkan telah mengucap janji suci dengan sosok lain yang dia bilang adalah sosok ketiga perusak suasana. Tak sadarkan dia bahwa bibit keburukannya akan berbuah hal yang sama di masa depan?

Aku layaknya seorang pesakitan yang membutuhkan udara bebas. Ingin rasanya aku kembali merasakan mengalirnya oksigen secara leluasa dalam darahku tanpa dihimpit sesak. Aku bahkan sudah lupa rasanya tertawa tanpa kepura-puraan. Aku tak lagi tahu apa itu ceria tanpa beban. Tapi aku masih bisa bernafas meski sesak, aku masih bisa berjalan meski terseok-seok dan aku masih sanggup menyiram antiseptik untuk luka di sekujur tubuhku. Inikah mata air di tengah gurun pasir? Inikah jalan buntu yang masih ada lubang tikusnya? Inikah putus asa yang masih berharap?

Tak banyak yang bisa aku lakukan. Bercengkerama denganNya di sepertiga malam terakhir menjadi obat penenang yang lebih dahsyat dibandingkan Alprazolam dan Sernade yang pernah ku telan. Bersujud lebih lama dengan sedu sedan tangis dan merayuNya untuk memberikan kekuatan tanpa batasNya lebih hebat daripada diinjeksi dua ampul Neurobion. Meracau dengan kata dan bermain dengan rangkaian huruf juga bisa menjadi teman baik yang tak akan menceramahiku, mencemoohku atau bahkan mengabaikanku karena menganggap aku terlalu lemah dan tak bisa beranjak dari sedihku.

Aku tak butuh cerita lucu untuk menghasilkan tawa dari bibirku. Aku tak butuh keramaian yang bisa hilang ketika aku pulang. Aku tak ingin mendengar kalimat “sudahlah untuk apa mengingatnya, segera lupakan semua yang telah menyayat luka di tubuhmu”. Aku juga tak mau terus berpura-pura menjadi kuat.

Biarkan saja aku mencoba secara perlahan. Biarkan aku bersahabat dengan waktu. Biarkan aku belajar sambil menjalani waktu tanpa terburu-buru. Biarkan aku menemukan mental bajaku dengan caraku sendiri. Biarkan aku menemukan kekuatanku meski harus menyentuh sumber lukaku. Jangan paksa aku untuk menuntut waktu mempercepat sembuhnya lukaku.

Kemarilah sejenak. Bawakan aku kasa dan betadine untuk mengobati lukaku. Siapkan aku pelukan terhangat saat aku menggigil kedinginan. Sediakan aku payung saat aku basah kuyup terkena hujan. Sokonglah aku dari belakang. Jadilah yang pertama menangkapku ketika aku terjatuh kembali di tengah perjalananku menemui waktu. Dan pinjamkanlah bahumu untuk sejenak aku merebahkan kepalaku yang terasa sangat berat ini.

Aku lelah.

Kamis, 07 April 2016

Sebuah Ungkapan Rasa


Kota ini masih saja setia dengan udara panasnya. Tak peduli pagi, siang atau malam, udara panas tetap menjadi sahabat karib kota ini. Seperti malam ini. Udara panas seperti malam-malam sebelumnya. Tak ada dingin yang merasuk kulit seperti suasana malam di kota kelahiranku.
Malam ini seiring dengan panasnya kota karang ini, ada rasa tak nyaman yang ku rasakan. Entah aku harus menyebutnya apa. Aku tak suka bila harus menyebutnya perpisahan ataupun kehilangan. Terlalu sakit rasanya jika harus berhadapan dengan dua hal tersebut ataupun salah satunya. Tapi tak bisa ku pungkiri, malam ini aku merasakan apa itu namanya perpisahan.
Bagiku kamu seperti saudara perempuanku selama berada di kota ini. Saudara seiman yang seringkali mengingatkanku bila aku mulai melalaikan perintahNya. Saudara yang selalu menggenggam kuat tanganku saat aku merasa takut yang tak berkesudahan. Saudara yang selalu memelukku erat saat aku merasa jatuh dan sakit. Saudara yang selalu bisa membuatku tersenyum dan percaya bahwa aku tak pernah sendiri di sini. Saudara yang tak sedarah tapi darahku juga ikut berdesir jika ada sesuatu hal yang terjadi padamu.
Esok adalah hari dimana kamu meninggalkan kota karang. Meninggalkanku terpapar matahari yang menyengat di kota ini. Meninggalkanku bermain pasir tanpamu. Meninggalkanku menikmati senja-senja indah tanpamu. Meninggalkanku menapaki setiap jengkal garis pantai sendiri. Ahhh..tidak, aku tak menyalahkanmu pergi meninggalkan kota ini dan meraih mimpimu di tempat kerjamu yang baru. Tapi aku hanya merasa kehilanganmu.
Terima kasih saudaraku. Terima kasih selalu bersamaku dalam satu tahun terakhir ini. Terima kasih selalu mengingatkanku untuk lebih dekat denganNya. Terima kasih selalu memberikan tanganmu untuk ku genggam saat aku merasa lemah. Terima kasih selalu memberikanku pelukan saat aku merasa jatuh. Terima kasih selalu membuatku merasa percaya bahwa apa yang aku alami sekarang ini adalah hal terindah yang sudah DIA takdirkan untukku. Terima kasih selalu bersedia mendengar keluh kesahku yang masih saja tentang sosok laki-laki masa laluku itu. Terima kasih selalu membuatku tertawa kembali setelah aku menangis tersedu setiap kita membahas tentang rasa sakit yang sudah timbul karena sosok masa laluku. Semakin aku urai, rasanya tak akan cukup rasa terima kasihku karena kehadiranmu.
Selamat berjuang di kota barumu nanti. Selamat menikmati suasana barumu di sana. Jangan pernah mau dikalahkan sama jarak. Sejauh apapun jarak kita nanti, selama itu masih bisa ditempuh, aku rasa tak ada alasan untuk kita tak saling bersua. Aku akan merindukan bermandikan pasir bersamamu. Aku akan merindukan menapaki garis pantai bersamamu. Aku akan merindukan mengabadikan indahnya senja bersamamu. Aku akan merindukan suasana TnT yang selalu heboh dengan rempongnya kita.  Aku akan merindukan pelukanmu yang selalu bisa menguatkanku. Aku akan merindukanmu, Vidya. Terima kasih sudah menjadi sosok saudara perempuanku yang tak pernah bosan mengingatkanku bahwa luka yang aku rasakan sekarang akan segera mengering. Aku beruntung pernah menghabiskan hari-hariku bersamamu. Jangan lupa mengunjungiku di sini. Kita masih punya janji menjelajah bumi Nusa Tenggara Timur bersama. Semoga Allah selalu melindungi setiap jengkal langkahmu di tempat barumu nanti. Kita akan bahagia dan harus bahagia, Vid. Hal terindah sudah DIA siapkan untuk kita pada waktu tepat yang sudah disusunNya untuk kita. I Love you my unbiological sister.

Minggu, 03 April 2016

Teruntuk kalian yang sudah berbahagia di atas perihnya lukaku


Ketika aku menuliskan ini, aku sudah tak lagi merasakan hati yang penuh dengan kecamuk. Mataku juga sudah tak lagi basah dengan air mata. Dan otakku sudah sangat menyadari bahwa Allah telah mencurahkan cintaNya yang sangat besar untukku.

Kebahagiaan kalian yang telah bersatu dalam ikrar suci pernikahan sudah kalian dapatkan. Kebahagian yang kalian peroleh dari tetesan air mata dan sakit hatiku. Tawa yang kalian tunjukkan tak lain di dapatkan dari merampas tawaku. Kebersamaan yang kalian rasakan sekarang itu telah melewati jalan hidupku dengan cara menginjak-nginjak harga diriku dan keluargaku. Masa depan yang akan kalian jalani juga terjadi setelah memotong jalan masa depanku.

Hai wanita yang sudah disebut sebagai istri. Kau pasti masih sangat ingat apa yang telah aku katakan tepat di hadapanmu hari ini. Kau telah berhasil mengoyak hatinya dengan hadirmu tepat di beberapa belas hari sebelum pernikahanku dengan laki-laki yang kau panggil suami itu. Kau juga telah berhasil membuatnya berpaling dariku dan membatalkan rencana yang sudah kami susun selama 6 bulan terakhir lalu dia melamarmu tepat di beberapa belas hari menjelang waktu seharusnya dia menikahiku. Tak usah bangga kau bisa memilikinya sebagai suami setelah kau menikung jalan yang sedang aku lalui bersamanya. Ini bukanlah sebuah kebanggaan. Melainkan adalah sebuah beban. Tak mudah menjaga seorang penghianat. Apalagi harus menghabiskan sisa umurmu bersamanya. Sungguh itu bukanlah sebuah hal yang mudah.

Dan kau laki-laki yang sudah disebut sebagai suami. Pasti tak akan pernah kau lupa bagaimana rasanya wajah yang basah karena disiram segelas teh di hari pertama pernikahanmu. Ceritakan pada anak laki-lakimu nanti bahwa kau pernah menjadi seorang pengecut, tak bertanggungjawab, tak punya komitmen dan tak memiliki etika sesaat sebelum menikahi ibunya. Didiklah anak laki-lakimu untuk menjadi laki-laki yang jauh lebih baik darimu. Meski aku tak yakin kau bisa melakukan itu. Karena darah penghianat dan pengecut akan tetap mengalir deras dalam tubuh anak laki-lakimu. Tapi setidaknya jadikan dia laki-laki yang tidak akan melakukan tindakan bodoh seperti yang kau lakukan padaku dan keluargaku.

Aku tahu, mungkin memang jalan jodoh kalian harus melewati aku terlebih dahulu. Tapi cara kalian untuk menuju pernikahan ini yang sangat tidak hormat. Kalian bermain api di belakangku. Kalian bermain kotor di luar penglihatanku. Sebenarnya aku juga tak segan-segan akan memberikan laki-laki itu padamu, hai wanita. Dan aku juga akan dengan senang hati merelakanmu memilih wanita itu meskipun kamu meninggalkanku tepat di beberapa belas hari sebelum pernikahan kita, hai laki-laki. Tapi kenyataannya kalian malah merajamku hingga aku berdarah-darah dan melangkah dengan terseok-seok. Sedangkan kalian tertawa dengan bahagia yang sudah di ubun-ubun karena akhirnya bisa menjadi sepasang pengantin dengan jeda hanya 103 hari dari waktu seharusnya laki-laki yang sekarang kau sebut suami itu menikahiku. Sungguh merasa luar biasakah kalian dengan melakukan hal tersebut padaku?

Aku akan tetap mengingat kalian. Mengingat bagaimana kalian membangun rumah tangga dengan langkah awal menginjak harga diriku dan keluargaku. Mengingat bagaimana kalian menanamkan memori kelam tentang sebuah penghiatan dalam otakku. Mengingat bagaimana kalian menggoreskan pisau untuk mengukir luka di sekujur tubuhku. Mengingat bagaimana kalian menyiram setetes demi setetes air jeruk nipis di atas luka basahku yang kalian buat lalu kalian tertawa bahagia sambil berlalu meninggalkanku yang sedang merasakan perih yang teramat sangat. Lukaku pasti akan mengering pada waktunya. Tapi luka kering pun akan tetap ada bekasnya. Bekas yang tak lagi perih tapi akan tetap terlihat sebagai bekas luka.

Seburuk apapun perlakuan kalian berdua padaku, satu hal yang perlu kalian tahu, aku tak pernah mendoakan hal buruk terjadi pada rumah tangga kalian. Tapi satu hal yang perlu kalian ingat, kalian mengawali rumah tangga kalian dengan menanam bibit bunga bangkai. Sampai kapanpun juga, bibit bunga bangkai tak akan pernah tumbuh menjadi bunga mawar yang harum. Tanpa aku mendoakan yang buruk, hal buruk yang kalian lakukan pada jalanku tetap akan memiliki imbas yang sama pada jalan kalian. Kalian pasti tak akan pernah lupa bagaimana sebab akibat terjadi.

Selamat menempuh hidup baru. Nikmatilah bahagia yang kalian dapatkan dengan cara menginjakku. Entah sekokoh apa bahagia kalian nantinya. Karena kalian telah membangun bahagia kalian dengan pondasi tetesan air mata dan perihnya sakit hatiku dan keluargaku.

Ini adalah surat pertama dan terakhirku untuk kalian. Aku tak akan sudi lagi membiarkan jemariku merangkai kata untuk menulis tentang kalian. Jangan sekali-kali kalian menginjakkan kaki dalam kehidupanku. Cukup sampai di sini saja kalian menggoreskan luka. Biarkan aku hidup dengan caraku untuk menyembuhkan luka yang kalian buat. Dan aku akan membiarkan kalian menjalani hari sambil menunggu waktu menuai apa yang kalian tanam padaku dan keluargaku saat ini. Selamat berbahagia.

Salam dari aku.

Wanita yang sudah bisa kuat berdiri meski dengan luka yang masih basah karena perbuatan kalian.