Minggu, 21 Februari 2016

Melupakanmu itu bukanlah sebuah kewajiban tapi kepastian



Ceritaku memang masih tentangnya. Banyak yang menyampaikan padaku, "sudahlah, tak perlu lagi kau menulis tentangnya. Siapa dia sih sampai bisa meracuni otakmu seperti ini?". Bahkan ada yang bilang, "buang jauh-jauh dia. Meski kau bilang tak merindunya, tapi jika untaian kalimatmu masih berisi tentangnya, berarti kamu belum sepenuhnya melupakan dia. Lihatlah dia. Adakah dia merasakan kehilangan yang sama sepertimu?". 

Aku menyayanginya. Iya, sangat menyayangi dia. Aku sudah memberikan sebagian hatiku padanya. Aku sudah memberikan sepenuhnya percayaku padanya. Memang sekarang dia sudah pergi. Berlalu dengan membawa sebagian hatiku dan sepenuhnya percayaku. Tidak, bukan aku mengharapkannya kembali atau tak bisa menerima kenyataan dia sudah pergi untuk menjauh dari mimpi dan rencana yang sudah kami susun. Aku hanya ingin bilang, rasa sayang itu bukan tisu sekali pakai yang bisa di buang begitu saja apabila sudah selesai digunakan. Tapi hal ini juga bukan sebuah alasan bahwa aku akan terus tenggelam dalam kesedihan karena kehilangannya.

Bagi hampir semua orang, berusaha melupakan adalah salah satu cara mengobati kehilangan. Bagiku hal itu tidak berlaku. Ketika mataku bisa menatapnya tanpa sebuah rasa nyeri di dada, ketika aku merasa kuat meski ada bulir-bulir kristal bening jatuh dari pelupuk mataku dan ketika aku sudah terbiasa menjalani hari-hariku tanpa campur tangannya, bagiku itu adalah sebuah "kesembuhan" tanpa harus terpaksa menelan pil yang bernama "melupakan".

Aku tak akan pernah lupa segala hal tentangnya. Aku tak akan pernah lupa setiap detail bahagia yang pernah aku dapatkan ketika aku bersamanya. Aku tak akan pernah lupa tiap penggalan cerita kita. Aku tak akan pernah lupa bagaimana bentuk wajahnya. Aku tak akan pernah lupa siapa namanya. Aku tak akan pernah lupa sejauh apa perjalanan yang sudah aku tempuh bersamanya. Dan aku juga tak akan pernah lupa tiap nyeri yang sudah dia sentil ke hatiku. Itulah mengapa, aku tak akan pernah berusaha melupakannya. Dia akan tetap berada di hatiku. Di sebuah ruang di dalam hatiku, tempat dimana aku meletakkan hal-hal yang tak layak pakai.

Aku memang merasakan luka karenanya. Tapi aku tak akan pernah memaksa waktu untuk mempercepat kesembuhan lukaku. Tak ada yang ku kejar. Tak ada yang ku tunggu. Jadi untuk apa aku memburu waktu untuk mempercepat kesembuhan lukaku? Yang perlu aku lakukan sekarang, hanya bersahabat dengan waktu. Berjabat tangan dan mungkin sesekali bercengkerama dengan waktu. Aku hanya perlu belajar menjalani semuanya bersama waktu. Berdamai dengan waktu tanpa harus terlalu ikut arusnya.

Aku tak akan mati-matian untuk berusaha melupakannya. Berkata pada dunia, "hai, aku sudah melupakannya. Aku sudah berhasil mengeyahkan dia dari hatiku. Otakku sudah tak menyimpan memori apapun tentangnya". Aku tak akan memaksa diriku sendiri untuk melakukan itu. Aku tak akan menyiksa diriku sendiri dengan sebuah tuntutan untuk melupakannya. Aku tak akan takut untuk mengakui bahwa diam-diam dalam sujudku aku masih terisak tiap kali mengingat semua luka yang dia torehkan. Aku tak akan menggadaikan tiap penggalan cerita kita pada waktu. Aku juga tak akan menghanguskan kepada sesal tiap bahagia yang sudah kita pintal bersama.

Aku memang hidup di hari ini. Tapi aku juga bisa hidup di hari ini karena masa lalu. Aku sudah berjabat tangan dengan tiap sesi di masa laluku, baik yang manis sampai yang pahit. Jadi untuk apa aku harus menyiksa diriku untuk berusaha melupakannya? Bagiku, melupakan itu bukanlah sebuah kewajiban tapi kepastian. Kepastian yang tak di buru waktu. Karena waktu pasti akan datang untuk memenuhi tujuannya.

Julianto Saputro @julikunto and Yualeny Valensia @valensia90 Wedding Invitation


Story Of Us

Sabtu, 20 Februari 2016

Pulanglah, aku merindukanmu..


Setelah sekian lama kita tidak bercengkerama, bolehkah malam ini aku meminta sesuatu darimu? Aku ingin merebahkan kepalaku di pundakmu. Aku ingin melepaskan penatku di bahumu. Aku ingin menumpahkan sedihku pada rengkuhan pelukmu. Aku ingin merasakan hangatnya genggaman tanganmu. Aku ingin mendengarkan merdunya suaramu. Aku minta, izinkan aku merasakan semua itu lagi, malam ini.

Kau tahu? Betapa aku sedang merasakan duka. Merasakan rasa sakit yang luar biasa. Merasakan sepi yang teramat dalam. Merasakan pedihnya diabaikan. Merasakan tersiksanya diinjak-injak. Hidup terasa begitu kejam. Aku merasa seperti seorang narapidana. Aku seperti sedang menerima sebuah hukuman. Rasanya sungguh memuakkan. Aku tak bisa melakukan apa-apa. Hanya ada bulir-bulir air mata.

Aku sudah melewati usia seperempat abad. Ingatkah kau tentang percakapan-percakapan kecil kita setiap malam saat aku masih belasan tahun? Kau satu-satunya panutanku. Kau yang selalu memompakan semangatmu padaku. Kau selalu menyuntikkan ribuan kubik impian di otakku. Kau selalu bilang, aku harus menjadi perencana yang ulung. Katamu, seorang perencana yang ulung akan selalu bisa memperoleh hasil yang spektakuler.

Aku hampir tak pernah merasakan bagaimana sakitnya mengalami sebuah kegagalan. Kau selalu ada mendukungku. Tak pernah kau meninggalkanku tenggelam dalam kegagalanku. Kehadiranmu selalu membuatku percaya, aku bisa meraih mimpi yang lain. Aku buta dengan rasa sakit hati. Sosokmu selalu membuatku yakin, sesakit apapun hatiku, kau pasti selalu mempunyai obat yang manjur untuk menyembuhkan luka hatiku.

Lihatlah gadis kecilmu ini. Aku akan menuju 26 tahunku di tahun ini. Perlahan aku sudah bisa meraih satu per satu mimpiku. Mimpi kita. Mimpi yang hampir selalu kita diskusikan. Aku sudah berada di titik ini. Aku memang belum sepenuhnya mencintai duniaku yang sekarang. Tapi dari aku masih merangkak, aku selalu melihatmu dikerubungi murid-murid kecilmu. Aku selalu melihatmu mendidik mereka dengan caramu. Kecintaanmu pada dunia pendidikan, ternyata juga membuatku terjatuh di dunia yang sama denganmu. Aku ingin menceritakan banyak hal tentang duniaku sekarang padamu. Aku butuh celotehmu tentang apa itu mendidik, apa itu mengajar, apa itu totalitas, apa itu mengabdi dengan sepenuh hati. Aku butuh sosokmu. Aku butuh kehadiranmu pada duniaku.

Tengoklah sejenak. Menolehlah ke arahku. Dan lihatlah aku sekarang. Aku tumbuh menjadi gadis seperti yang kau harapkan. Aku bisa hidup mandiri. Aku berada ribuan kilometer jauhnya darimu. Aku di sini untuk mimpimu. Mimpimu melihatku menjadi seorang abdi negara. Aku melakukannya untukmu, tidakkah kau tertarik untuk sejenak memalingkan wajahmu ke arahku? Kau selalu mengajarkanku untuk berdiri tegak dengan kakiku sendiri. Mengerjakan semua dengan tanganku sendiri. Merencanakan semua mimpiku satu per satu untuk aku raih. Kau selalu mengajarkanku untuk tak pernah letih berjuang. Kau mengajarkanku tegas pada diriku sendiri dan pada hidupku. Lihatlah. Aku menjadi seperti sekarang karena sosokmu.

Mungkin kau juga sudah mendengar beberapa celotehan tentangku. Iya, dia yang aku percaya bisa menjagaku, sudah pergi meninggalkanku. Tepat di beberapa belas hari sebelum kau berjabat tangan dengannya di depan penghulu dan para saksi. Dia pergi membawa sekeping mimpi yang sudah tersusun. Dia pergi membawa sejengkal harap yang sudah aku letakkan di bahunya. Dia pergi tanpa kata. Meninggalkanku tenggelam dalam kubangan air mata. Kau tahu apa yang ada di benakku saat ini? Andai kau masih berdiri tegak di sampingku, aku yakin, kau tak segan-segan akan memenggal kepalanya atau bahkan menguburnya hidup-hidup. Aku tahu kau pasti akan melakukan itu karena aku selalu yakin, kau tidak akan pernah rela berlianmu yang sudah kau jaga dari masih di dalam cangkang dibuang dan diinjak-injak begitu saja. Tapi akhirnya aku hanya berandai-andai, karena nyatanya sekarang kau tak ada di sisiku. Kau tenggelam bersama duniamu yang baru. Sama sepertinya. Kau meninggalkanku. Meninggalkan kami bertiga.

Kemarilah sejenak. Peluk aku sampai aku mengantuk dan ingin tidur. Nyanyikan aku gending-gending jawa seperti yang selalu kau lakukan dua puluh tahun lalu. Marahlah padaku seperti saat aku tak mau makan sayur. Mengocehlah padaku seperti saat aku pulang terlambat karena asyik bermain. Bawakan aku sekotak es krim meski sudah mencair. Tataplah mataku seperti saat aku merasakan kegugupan mengikuti lomba. Tersenyumlahlah padaku seperti saat kau melihat hasil akademikku. Siramilah aku dengan semua kata-kata penguatmu. Hujani aku dengan cintamu. Puaskanlah aku dengan perhatian-perhatianmu.

Aku tak sekuat yang orang lihat. Aku rapuh. Tangisku selalu pecah tiap kali aku mengingatmu. Dadaku selalu berdesir ketika melihat gadis lain bercengkarama dengan sosok yang sama sepertimu. Hatiku terasa nyeri setiap kali membayangkan kau mengusap rambutku. Inginku menyumbat telingaku karena setiap kali aku seperti mendengar gaungan suaramu. Tak rindukah kau mengomeliku? Tak rindukah kau menelponku hampir setiap jam? Tak rindukah kau menanyakan setiap detail aktifitasku? Tak rindukah kau memanjakan gadismu ini? Sudah hampir dua tahun, masih belum inginkah kamu kembali pada kami?

Sedewasa apapun aku nanti, aku masih tetap gadis kecilmu. Aku selalu membutuhkan sosokmu. Putra-putri kecilku nanti pasti juga ingin mengenal sosokmu. Pulanglah. Aku merindukanmu, bapak..


Jumat, 19 Februari 2016

Hai kamu!


Malam ini aku ingin menulis lagi tentangmu. Tentang kita. Tunggu. Jangan dulu protes. Aku menulis ini bukan karena aku merindukanmu. Bukankah sudah pernah aku tulis kalau rinduku sudah hilang tak berjejak? Merindukanmu saja aku sudah lupa rasanya. Apalagi mengharapkanmu kembali. Itu sudah tak ada lagi dalam kamus hidupku. Jadi jangan kau pikir, dengan masih menulis tentangmu, itu artinya aku masih menyimpan secercah asa untukmu. Sudah tak ada lagi.

Kau memang masih menjadi yang utama. Topik utama saat aku bercengkerama dengan hatiku. Namamu masih jadi salah satu nama yang selalu aku sebut saat aku menengadahkan tanganku padaNya. Kamu masih menjadi sosok utama yang mendominasi pikiranku. Tokoh utama yang merasuki jiwaku. Kau juga masih menjadi sosok yang spesial untukku. Mungkin tak ada lagi sosok spesial lain yang bisa menggantikan posisimu. Jangan dulu berbesar hati. Apalagi berbesar kepala saat kau membaca rangkaian kata dalam kalimat yang aku tulis tentangmu ini. Kau memang spesial. Tapi bukan sebagai kekasih. Apalagi sebagai pendamping hidup. Kau adalah teman tumbuh di masa laluku. Kau spesial karena kau turut andil dalam membentukku menjadi wanita yang tangguh. Peranmu dalam hal ini sangat banyak. Aku rasa, hanya darimu aku mendapatkan kedewasaan, kemandirian, keikhlasan, kelegowoan, ketangguhan, kemarahan, kesedihan, kebahagiaan, kekuatan, dalam satu waktu yang sama. Tak ada teman masa laluku yang memberikanku sepaket tawa dan tangis seperti dirimu. Itulah mengapa kau ku sebut spesial.

Oh iya, aku sampai lupa menanyakan kabarmu. Apa kabar kamu? Apa kau masih suka makan nasi putih dengan porsi yang banyak? Sudah tak pernah lagi kah kau makan nasi merah seperti yang biasa aku buatkan untukmu? Makan siangmu pasti berantakan karena tak ada lagi bekal makan seperti biasa. Masih jugakah kau malas makan sayur? Ahhh..aku rasa perutmu itu semakin buncit saja. Karena karbohidrat dan lemak yang selalu kau konsumsi berlebihan.

Bagaimana pekerjaanmu? Apakah tas ranselmu masih selalu penuh dan berat? Adakah kota yang kamu kunjungi selama beberapa minggu terakhir? Masihkah malammu kau lewatkan dengan duduk di depan meja kerja kantormu dengan setumpuk berkas-berkas itu? Siapa yang sekarang suka kau ajak berkeluh kesah tentang pekerjaanmu yang tak pernah ada habisnya itu? Apakah kau juga masih terbiasa mengendarai motormu tanpa menggunakan jaket?

Teras, ruang tamu, ruang tengah, kamar-kamar, dapur, kamar mandi, tempat cuci baju, pasti kau jarang menyapu dan membersihkan debu-debu yang menempel. Tirai dan sprei di kamarmu pasti juga belum kamu ganti. Bukankah aku selalu bilang bahwa paling tidak seminggu sekali kamu harus peduli sama keadaan rumah kontrakanmu. Sabtu pagimu masih sibuk dengan segunung cucian kah? Masih adakah bajumu yang kelunturan? Berkali-kali sudah aku ingatkan, pisahkan seragam kantor dengan baju-baju harianmu. Repot ya mengurus semua cucian dan jemuranmu? Biasanya kan Sabtu pagi kau selalu menjemputku di messku, membawaku ke rumah kontrakanmu, lalu aku berkutat dengan dapur, membuatkanmu sarapan sebelum aku bertempur dengan cucian yang selalu bergunung-gunung setiap minggu, sedangkan kamu tinggal menunggu sarapan dengan menonton televisi di kamarmu.

Apa saja isi kulkasmu sekarang? Pasti makanan instan semua. Kapan kau mau beli sayur untuk asupan seratmu? Ingatkah sama hasil laboratorium saat medical check up terakhirmu? Kolesterolmu meningkat. Sudah selalu aku cerewetin kan untuk mengurangi makanan yang berminyak-minyak? Asam uratmu juga meningkat. Hobimu sepertinya juga masih belum berubah. Sering-sering saja konsumsi bebek goreng penuh lemak dan purin itu kalau kau mau sendi-sendimu bengkak karena hiperurisemia. Ahh..kau terlalu menganggap remeh semua itu kan? Lihatlah berat badanmu yang pasti semakin hari semakin bertambah. Kapan kau benar-benar mau menyadari kalau pola makanmu sudah terlalu berantakan?

Rindukah kau dengan senja yang selalu kita nikmati keindahannya saat weekend? Masih seringkah kulitmu yang sudah mulai menggelap itu bermandikan sinar matahari pantai? Berlarian dengan siapa kau jika ke pantai yang sepi itu? Apakah kau sudah bisa snorkling dengan lebih baik lagi? Ataukah kau sudah mulai berani mencoba diving? Siapa yang kau ajak narsis dengan tongsis yang bisa juga berfungsi sebagai tripod yang ditancapkan ke pasir? Adakah yang menemanimu tertawa sambil menikmati suara deburan ombak kecil di pantai?

Minggu pagimu masih dihabiskan dengan futsal? Pulang futsal kau pasti menghabiskan sepiring nasi kuning dengan bermacam-macam lauknya atau sepiring nasi putih dengan opor ayam yang tentunya lagi-lagi tanpa sayur. Ataukah ada yang menyambutmu di rumah kontrakanmu dengan masakan lengkap bahkan beberapa potong buah? Biasakan sepulang futsal itu untuk mengambil baju-baju yang ada di jemuran. Jangan asal dilempar ke atas kasur. Lipatlah yang rapi meski tidak langsung kau setrika. Ataukah baju-baju itu berhari-hari masih kau biarkan tetap di jemuran? Kebiasaanmu masih belum berubah juga kah?

Ohh iya, seharusnya tak perlu aku bertanya sedetail ini atau mengkhawatirkanmu. Bukankah kau membatalkan acara pernikahan kita yang tinggal dua minggu lagi itu karena ada sosoknya? Sosok wanita yang kau panggil dengan sebutan “ibu negara”. Yang kau posting di instagrammu saat dia memandumu membuat sepiring spaghetti, beberapa hari setelah kau batalkan acara sakral yang sudah kita siapkan berdua. Ahh aku benar-benar lupa. Sekarang sudah ada sosoknya. Bagaimana “ibu negara”mu?

Apakah dia bisa melakukan tugas negaranya dengan baik? Masakannya seenak masakanku kah? Pengetahuannya tentang bahan makanan sebagus aku kah? Bisakah dia memilih dan mengolah makanan yang rendah koleterol dan rendah purin untukkmu yang sedang mengalami hiperkolesterol dan hiperurisemia? Kalaupun dia bisa, apakah dia tahu jenis-jenis makanan yang boleh atau tidak boleh untukmu dari internet atau memang dia sudah tahu dari dulu?

Ehh tapi dia bukan ahli gizi sepertiku kan? Jadi aku rasa, dia pasti tak tahu banyak bagaimana merawat kolesterol dan asam urat di tubuhmu agak tak menggila. Apakah dia bisa menyelesaikan pekerjaan rumah seperti yang selalu aku lakukan dulu? Baikkah perlakuannya ke kamu? Komplainkah dia setelah tahu sebagian gajimu selalu lenyap hampir 95% setiap bulannya? Sudah merengekkah dia meminta televisi yang lebih besar agar kalian bisa punya bioskop di rumah? Terima kah dia dengan kulkas satu pintumu yang sudah mulai usang itu? Ataukah kalian sudah membicarakan mahar pernikahan sepaket gadget bermerk buah yang setengahnya sepertinya sudah dimakan tikus itu? Upss..harusnya aku tak perlu mengetahui tentang bagaimana hubungan kalian berdua sekarang.

Tenang saja, aku tak akan menganggu kebahagiaan kalian berdua. Meskipun aku tahu siapa dia, aku tak akan datang ke hadapannya untuk mengoyak tubuhnya atau malah mencincang dagingnya untuk aku buat bakso. Aku juga tak akan menyiram wajahmu dengan air keras. Atau meracuni minumanmu dengan sianida atau sejenisnya. Tenang saja. Aku tak akan bertindak serendah itu meski kau sudah merendahkanku dan keluarga besarku.

Aku menyapamu kali ini bukan karena aku merindukanmu. Sekali lagi, aku ulang, bukan karena aku merindukanmu. Aku hanya ingin menyampaikan, mimpiku yang pernah aku sampaikan padamu dan pernah kita susun berdua, sudah mulai aku dapatkan satu per satu, dengan kerja keras dan usahaku sendiri. Kali ini aku menuntut diriku sendiri untuk meraih semuanya, satu per satu. Tenang saja. Tak akan ada tuntutan atau menuntut kamu memenuhi semua mimpi kita seperti yang kamu koarkan di orang-orang sekitarmu sebagai alasanmu untuk menginjakku. Aku mulai mendapatkan titik terang untuk meraih semuanya sendiri, tanpa kamu.

Kamu bangun saja negaramu bersama ibu negaramu itu. Konsentrasilah membangun setiap detail negaramu. Berhati-hati jangan sampai kau membawanya berjalan dan tersandung batu karang.  Batu karang yang tumbuh dari kerikil-kerikil yang sempat kau taburkan pada jalan hidupku dan keluargaku saat ini. Hiduplah dengan baik bersamanya. Berilah dia penjelasan mengapa 95% gajimu terpotong secara otomatis setiap bulannya sampai delapan tahun ke depan. Tawarkan dia untuk hidup tanpa perencanaan masa depan yang matang. Siapa tahu saja dia sejalan dengan yang kamu pikirkan untuk berkenan hidup let it flow tanpa menyusun rencana dan strategi agar bisa memiliki sebuah istana mungil, memiliki dapur yang cantik dengan peralatan-peralatan tempur yang ciamik, memiliki perabotan rumah tangga yang lebih baik, memiliki tabungan pendidikan untuk anak-anak, memiliki tabungan pensiun, memiliki tabungan untuk kesehatan, dan memiliki kehidupan masa depan yang lebih layak.

Hiduplah dengan cara pikirmu itu dan hentikan omong kosongmu tentang tuntutan, menuntut dan dituntut yang mencatut namaku itu. Karena bagiku, hidup itu berawal dari mimpi. Mimpi direalisasikan dengan perencanaan yang matang lalu meraih semuanya satu per satu. Berbahagialah dengan ibu negaramu. Berhati-hatilah agar negaramu nanti tak terguncang gempa atau malah habis tak bersisa di gulung tsunami. Mencobalah untuk berpikir dan menyadari, bahwa DIA memunculkan gempa atau tsunami itu karena sebuah sebab. Karena bisa saja, sakit hatiku dan keluarga besarku menjadi salah satu penyebab gempa dan tsunami menghampiri negara antah berantah yang sedang kau bangun bersama ibu negaramu itu.

Salam dari aku,
Gadis yang masih merangkak untuk melupakanmu tapi sudah berlari jauh dari merindukanmu..

Masih Tentang Kamu



Sejak aku memutuskan untuk menutup cerita masa laluku dengan sesosok laki-laki berhidung pinokio dan berambut pirang itu, aku membuat kesepakatan dengan diriku sendiri untuk menikmati hidup sendiri terlebih dahulu, memanjakan diriku, dan memberi kesempatan hatiku untuk pulih. Tak ku kira bahwa sebuah sapa bisa merubah apa yang sudah aku sepakati dengan diriku. Sebuah hashtag membuatmu bisa menemukan sebuah akun media sosialku dan sapamu membuatku berpikir ulang, bahwa tak ada yang salah jika aku mencoba membuka hatiku.

Sebelum mengenalmu, bertahun-tahun aku menjalani masa laluku dengan sosok laki-laki yang menggenggam rosario. Aku selalu merindukan sosok laki-laki yang bisa aku dengar suara merdunya saat melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an. Kehadiranmu sejak saat itu membuatku seakan tak punya alasan untuk tidak memberimu kesempatan. Aku masih mengingat setiap detail tawaranmu agar kau tetap bisa menemuiku setiap hari. Kegigihanmu membuatku merasa harus memberimu sebuah kesempatan. Penerimaanmu padaku termasuk dengan segala kekurangan keluargaku membuatku merasa harus memberimu kesempatan menempati sebagian hatiku. Aku berharap bahwa setidaknya kamu bisa mengobati kerinduanku akan hadirnya sosok laki-laki yang bisa melindungiku dan dua perempuan terhebat di sisiku.

Tak pernah aku berpikir siapa kamu dan dari keluarga mana kamu berasal. Bagiku, cukup dengan penerimaanmu dan keluargamu kepadaku dan dua wanita terhebat di sisiku itu adalah sebuah hal yang tak ternilai. Aku bahagia menjadi sosok yang selalu kamu elu-elukan di hadapan semua rekanmu. Kamu tahu? Awalnya aku sangat meragukan sosokmu, tapi seiring dengan berjalannya waktu dan perlakuan manismu padaku, ragu itu sirna dengan sendirinya.


Kau ingat? Saat kita makan malam bersama, sebuah kalimat meluncur dengan sempurna dari bibirmu, “aku ingin kau menjadi ibu dari anak-anakku, aku ingin kau menjadi istriku. Ijinkan aku datang ke rumah untuk melamarmu”. Kau mencoba meyakinkanku sepenuh hati hingga aku mengiyakan niatmu. Kamu tahu rasanya seorang wanita yang ada di posisi itu? Rasanya benar-benar di atas awan. Melayang karena bahagia.


Tak ada hari yang aku lewati tanpamu. Tak ada waktu makan yang aku lewatkan tanpamu. Tak ada cerita tentang keseharianku yang tak berakhir di telingamu. Tak ada tawamu yang aku lewatkan. Kebersamaan kita, pertemuan intensif kita, membuat kita bisa saling mempelajari karakter kita masing-masing. Impian-impian masa depan sudah kita susun berdua. Mulai dari bagaimana kita harus menabung untuk memiliki sebuah istana mungil tempat anak-anak kita berlarian nantinya. Tentang bagaimana kita harus menyisihkan rupiah demi memberikan pendidikan yang layak untuk anak-anak kita. Tentang bagaimana kita harus berhemat agar kita bisa mengisi istana mungil kita nanti dengan barang-barang yang tidak mewah tapi bermanfaat. Tentang rencanaku melanjutkan sekolah ke jenjang magister yang kau sambut dengan suka cita, bahkan kau bilang akan meminta cuti di luar tanggungan negara agar kita tetap bisa bersama di satu kota yang sama. Tentang bagaimana kita membagi penghasilan kita berdua untuk detail kebutuhan kita nantinya dan kau tentunya pasti masih sangat ingat saat kau menangis tersedu karena masalah yang menghampirimu terkait urusan finansial yang harus kau pertanggungjawabkan di kantormu padahal kau tak pernah menggunakan dana itu untuk kebutuhan pribadimu. Aku masih ingat dengan jelas saat kau bilang jika aku ingin mundur dari rencana pernikahan kita, kau mempersilahkan aku mundur. Tapi nyatanya, tidak kan? Aku menerimamu dengan segala kurang lebihmu. Aku menerimamu untuk memulai hidup dari awal. Dari merangkak, berjalan hingga berlari untuk rumah tangga kita nantinya. Pelukanmu malam itu membuatku merasa, iya, kamu sosok yang aku cari.


Jakarta. Tempatmu menetap selama 14 hari dengan temanmu yang berasal dari seluruh pelosok Indonesia membuatmu berubah pikiran. Saat kau menyampaikan niatmu untuk membatalkan acara sakral kita adalah pukulan telak bagiku dan dua wanita terhebatku. Kesalahan-kesalahan yang kau lemparkan padaku membuatku bertanya-tanya ada apakah ini. Beberapa hari setelah itu, kau datang kembali untuk meminta maaf dan memintaku menerimamu kembali dengan pengakuan yang cukup membuatku ternganga. Rupanya ada dia yang menjadi penyebabmu meragu. Bagiku saat itu, ini adalah cobaan bagi kita. Aku tak memperpanjang masalah. Aku kembali menerimamu dan pelukanmu malam itu dengan sedu sedan tangis maafmu membuatku tak lagi meragukan kesungguhanmu.


Dua hari setelah kau datang dengan pengakuan mengejutkanmu itu, kembali lagi kau mengatakan bahwa kau meragu dan ingin membatalkan semua rencana kita. Aku tak pernah tahu apa yang ada di benakmu saat itu. Aku terpukul. Kau mengakhiri semua begitu saja setelah aku memaafkanmu begitu saja. Tak lama setelah itu kau menghilang, tanpa kata, tanpa penjelasan apapun padaku maupun ibuku. Kau tak pernah tau bagaimana persiapan pernikahan yang tinggal beberapa belas hari lagi sudah sangat detail. Kau pergi begitu saja. Orangtuamu pun tak bisa menjelaskan apa-apa pada kami. Lalu salahkah apabila keluargaku masih menunggu penjelasan dari mulutmu? Salahkah apabila kami meminta kau datang menjelaskan semua? Yang aku dengar, yang kami dengar, kicaumu pada orang-orang sekitarmu cukup membuatku tahu siapa kamu yang sebenarnya.  Rentetan kesalahanku yang kau beberkan pada mereka adalah sebuah wujud dari kepengecutanmu. Semua yang sudah kita siapkan berdua kau bilang adalah sebuah tuntutan bagimu. Lupakah kamu tentang semua percakapan kita tentang masa depan? Lupakah kamu bahwa aku bersedia memberikan rupiahku untuk kau gunakan demi rumah tangga kita? Tak usah lah kau meracau tentang aku. Yang tahu bagaimana kita dan sejauh apa rencana masa depan hanya kita. Jadi berhentilah berkicau. Dengan kau berkicau dan meracau tentang aku, itu semakin membuktikan kamu laki-laki seperti apa. Bukankah begitu?


Sekarang entah kau sedang dalam dekapnya atau sedang di dekap sepi, satu kata yang ingin aku sampaikan, nikmatilah. Aku tahu, sama sekali tak ada sesal di hatimu. Aku tahu, kau menganggap ini semua adalah hal yang biasa. Meninggalkan anak gadis orang yang sudah kau pinang dan membatalkan acara sakral yang sudah tinggal beberapa belas hari lagi adalah hal yang wajar bagimu. Karena lihatlah, kau bahkan tak berniat datang menyampaikan pembatalanmu langsung pada ibuku. Kau kabur dari kenyataan. Kau blokir semua sosial mediaku. Kau hilangkan jejakku dalam hidupmu. Sebegitu laki-laki kah kamu dengan melakukan cara itu? Aku rasa tidak.

Berjuta alasanmu meninggalkan cerita kita dengan mengumbar kesalahan-kesalahanku yang sebenarnya tak ada cukup membuatku tersenyum simpul. Tak ada lagi alasanku untuk membanggakanmu. Tak ada lagi alasanku untuk berkata pada dunia bahwa kamu yang terbaik. Tak ada lagi alasanku untuk menganggap bahwa kau seorang superman bagiku. Ternyata kamu tak lebih dari seorang laki-laki dengan hiperkolesterol dan hiperurisemia yang hanya bisa lempar batu sembunyi tangan. Meracau hingga kacau. Tanpa kau sadar kau hanya menjatuhkan dirimu sendiri. Apapun alasanmu meninggalkan cerita kita, hanya waktu yang akan menjadi jawaban dari semua kicaumu itu. Berhentilah meracau tuan. Berhentilah mengumbar aibmu sendiri. Berhentilah merasa benar. Karena seberapa hebatnya kau membela dirimu, ada saatnya kau akan menangis tersedu menyadari luka yang telah kau buat padaku dan seluruh keluarga besarku. Siapapun dia, belajarlah untuk lebih menjadi laki-laki baginya. Katakan padanya, aku tidak akan memarahinya atau datang menemuinya untuk mencabik-cabik kulitnya. Aku justru berterima kasih, karena kehadirannya di beberapa belas hari menjelang pernikahan kita membuatku tahu sosok seperti apa kamu sebenarnya.

Julianto Saputro,.
Belajar lagilah menjadi laki-laki sejati menjelang 28 tahunmu.
Karena meminang anak gadis orang lalu membatalkan tanpa sepatah kata penjelasan menjelang beberapa belas hari pernikahan tidak selucu itu dan tidak menjadikanmu benar-benar disebut laki-laki.


Terima Kasih Untukmu, Lelaki yang Pernah Menawarkan Masa Depan Tapi Tiba-tiba Mundur Tanpa Kata


Pagi masih setia datang tepat pada waktunya dan senja juga selalu datang dengan setiap keindahannya. Selama beberapa hari sejak kamu pergi, tak ada satu hal pun yang berubah. Rutinitasku juga masih aku lakukan, sama persis seperti saat kamu masih di sini. Semua masih tetap sama. Hanya saja, tak ada lagi sapa selamat pagi darimu saat menjemputku di pagi hari. Tak ada lagi batang hidungmu yang muncul di ruang kerjaku saat datangnya waktu makan siang. Tak ada lagi tawa renyah kita saat bercerita di makan malam sepulang dari mengais rupiah. Dan tak ada lagi senyum yang selalu aku lihat setiap malam saat kau mengantarkanku di depan rumah.

Aku menulis ini bukan karena merindukanmu atau mengharap kau untuk kembali. Rinduku seakan sudah pergi tak berjejak. Harapan-harapan yang sempat membuncah juga sudah terbang entah kemana. Rasa yang pernah meluber juga sudah menguap dan menghilang begitu saja. Hatiku sudah jauh lebih baik. Mataku sudah sangat terbiasa tanpa melihatmu. Telingaku sudah lebih nyaman tanpa kicaumu. Hidungku sudah tak lagi mencari aroma tubuhmu. Bibirku sudah tak tertarik lagi menyebut namamu. Kulitku menjadi lebih halus tanpa sentuhan tanganmu. Kau tau itu artinya apa? Artinya hidupku menjadi lebih sempurna tanpa kehadiranmu.

Dengan segala rasa nyaman yang aku dapatkan sekarang, aku hanya ingin berterima kasih padamu. Terima kasih atas segala bahagia yang pernah kau berikan padaku. Terima kasih atas setiap jengkal hari yang sudah pernah aku lewati bersamamu. Terima kasih atas tawa yang selalu kau hadirkan di setiap kebersamaan kita. Terima kasih atas pelukan hangat yang selalu kau berikan setiap aku merasa gundah. Terima kasih atas perhatianmu yang selalu tercurah untukku. Terima kasih sudah pernah menawarkan masa depan padaku.

Tak sedikitpun ada rasa menyesal di hatiku pernah bertemu dan mempunyai cerita hidup bersamamu. Mengenalmu, menjalani hari-hari bersamamu, merasakan membuncahnya rasa ketika kamu melamarku, dan menikmati repotnya mengurus persiapan pernikahan kita adalah lukisan pelangi yang pernah kau buat dalam hidupku. Terima kasih. Terima kasih sudah melukis pelangi terindah dalam hidupku walau akhirnya aku tak pernah menikmati indahnya.

Hidupmu mungkin saja jauh lebih bahagia tanpa aku karena tak ada lagi suara cempreng yang selalu mengingatkanmu untuk ini dan itu. Hidupku sekarang tentu saja lebih bahagia tanpamu karena tak ada lagi lelaki yang menawarkan kebahagiaan semu padaku. Kau sudah pernah memilih bahagiamu bersamaku dan aku juga sudah pernah menerima tawaranmu untuk hidup menua bersamamu. Dan sekarang, kamu sudah memilih bahagiamu dengan mundur dari penawaran menjalani masa depan bersamamu, beberapa belas hari sebelum hari sakral kita. Aku harap, aku sangat berharap, kau tak salah jalan memilih bahagiamu untuk mundur dari cerita kita ini. Karena satu hal yang perlu kau tahu, kau tak akan pernah bisa kembali ke jalan saat masih ada kita. Setelah kau memutuskan untuk pergi, jalan itu sudah aku tutup, aku gembok, dan kuncinya aku buang.

Hai kamu lelaki dengan hiperkolesterol dan hiperurisemia. Sekali lagi aku ingin mengucapkan terima kasih. Kedatanganmu di hidupku sudah merubah persepsiku tentang laki-laki. Kepergianmu di hidupku juga sudah membuat aku belajar banyak hal, terutama tentang tanggungjawab, komitmen dan sebuah konsistensi. Terima kasih sudah mengajarkanku tertawa saat menangis. Terima kasih sudah membuatku merasa dihargai sebagai wanita. Terima kasih telah memperlakukanku seperti seorang putri raja. Terima kasih sudah menjagaku dengan penuh rasa sabar. Terima kasih sudah selalu ada setiap aku membutuhkanmu.

Berbahagialah. Semoga memang dia satu-satunya sosok yang kau cari hingga kau bersedia untuk menyakiti hati dan menginjak-nginjak harga diri seorang gadis sekaligus seluruh keluarga besarnya. Terima kasih sudah memilihkan jalan ini untuk aku jalani. Terima kasih sudah memberikanku kesempatan untuk mendapatkan cinta yang lebih besar dari cintamu di masa depanku nanti. Terima kasih sudah memberikan pengalaman berharga yang bisa aku ceritakan pada anak laki-lakiku nanti tentang bagaimana harusnya seorang laki-laki bersikap. Terima kasih, karena dengan kepergianmu, itu artinya kau memberikanku kesempatan untuk mendapatkan sesosok laki-laki yang jauh lebih baik, lebih membawaku dekat dengan Rabb-ku, lebih menghargai aku, lebih bertanggungjawab, lebih menjaga komitmen, lebih konsisten, lebih setia, lebih menjaga kehormatan, lebih bisa menerimaku dengan bawelku, lebih bisa diajak berpikir ke depan dan tidak pernah berpikir tentang sebuah tuntutan, menuntut dan dituntut.

Aku tak pernah mendoakan hal-hal buruk terjadi di hidupmu. Aku hanya ingin mengingatkan saja, lebih berhati-hati lagi dalam bertutur kata, bersikap dan bertindak. Karena sebab akibat selalu ada. Karena hukum tanam tuai juga masih belum punah. Dan karena Tuhan selalu melihat apa yang kita perbuat. Sekali lagi, terima kasih. Karena dengan caramu ini, aku menjadi semakin yakin bahwa Tuhan memang sangat menyayangiku sehingga DIA menjauhkanku dari hal yang tidak baik untuk hidupku dan aku percaya, DIA akan menggantikan dengan hal yang baik untuk hidup dan masa depanku kelak.

Julianto Saputro, selamat berbahagia dengan jalanmu. Semoga peluknya memang jauh lebih hangat,.

Salam dari aku,

Gadis yang kadangkala masih merasa rapuh, tapi sudah tak lagi menangis ketika menulis ini.,


Kamis, 18 Februari 2016

Tujuh Belas Januari Dua Ribu Enam Belas


Hai Tujuh Belas Januari Dua Ribu Enam Belas. Akhirnya kita bertemu. Bertemu dalam keadaan aku menyanding sebutir Alprazolam dan sebutir Serenade. Entah ini sudah butir keberapa yang aku telan sejak 25 Desember 2015 lalu. Aku menangis lagi hari ini. Aku bosan dengan butiran-butiran kecil yang harus aku telan setiap malam. Aku lelah. Aku sudah berjanji, hari ini adalah hari terakhir aku menelan butiran-butiran dari bungkusan ini. Dan aku harus memenuhi janjiku. Harus.

Hari ini harusnya bukan dua butiran kecil ini yang aku genggam. Hari ini harusnya aku tak menangis pilu sendiri. Hari ini harusnya aku tak tenggelam dalam mimpiku. Hari ini harusnya aku tak berjuang melawan rasa sakit ini. Hari ini harusnya aku tak berada di kota karang ini. Hari ini harusnya aku tak merasakan dihempaskan sejauh ini. Hari ini harusnya, hari ini harusnya, dan hari ini harusnya.

Aku tahu, aku sangat tahu, sudah tak ada guna lagi aku meratapi semua yang terjadi. Menyesali kesalahanku meletakkan kepercayaan, mimpi dan harapanku sepenuhnya padamu. Semua tak akan pernah berubah. Ditangisi sehebat apapun juga toh hari ini akan tetap datang. Dihindari sejauh apapun juga hari ini akan tetap aku lalui.

Tujuh Belas Januari Dua Ribu Enam Belas, aku menunggumu selama hampir 26 tahun. Aku pikir, perjalananku bersama kekasih halalku akan aku mulai di hari ini. Aku mendapatkan pelabuhan terakhirku pada sosok yang juga menggenggam tasbih dan menengadahkan tangannya saat berdoa, bukan sosok yang menggenggam rosario dan melipat tangannya saat berdoa. Aku berpikir semua bahagia itu akan berlangsung hari ini. Tepat di hari ini.

Tapi hari ini, tak ada ikrar suci itu. Tak ada sedu sedan tangis bahagia. Tak ada aroma bunga-bunga segar. Tak ada helaan nafas lega setelah ijab qabul diucapkan. Tak ada tatapan penuh syukur dari mata-mata itu. Tak ada pelukan hangat. Tak ada ucapan selamat. Tak ada riuh tawa. Tak ada itu semua. Tak ada pernikahan yang sudah kita rencanakan sejak Juli tahun 2015 lalu.

Hari ini, dimanapun kamu berada, apapun yang sedang kamu lakukan, dan dengan siapapun kamu menikmati tanggal Tujuh Belas Januari Dua Ribu Enam Belas ini, berjanjilah satu hal. Bahwa kau tidak akan pernah melukai siapapun lagi seperti yang kau lakukan padaku dan pada kami. Ini teramat sangat sakit. Kau perlu tahu. Tidak mudah untuk tetap berdiri tegar menjawab setiap pertanyaan semua orang yang mungkin saja hari ini hadir di rumahku karena mereka tidak mendengar berita pembatalan pernikahan kita. Kau pasti tahu, siapa yang akan berdiri tegar di rumahku untuk menjawab setiap pertanyaan itu. Dia adalah wanita yang telah melahirkanku. Dan aku tidak bisa berada di sampingnya untuk menemaninya menjawab setiap pertanyaan dari mereka yang datang ke rumahku hari ini. Pernah terbersit dibenakmu tentang hal ini?

Berjanjilah. Cukup sekali ini kau menjatuhkan harga diri seorang perempuan dan keluarganya. Cukup sekali ini kau menawarkan masa depan tapi kemudian mundur tanpa sebuah alasan dengan persiapan pernikahan yang sudah matang. Cukup sekali ini kau membuat hampir semua orang mengeluarkan kata-kata kasar untuk mencacimu. Cukup sekali ini kau membuat orangtuamu menangis dan menahan malu ketika mereka harus datang membatalkan sebuah pernikahan yang kau inginkan sendiri. Cukup sekali ini kau menyakiti tapi tak menyadari kalau kau menyakiti. Cukup sekali ini kau tetap merasa benar setelah menginjak-injak perasaan seorang perempuan dan keluarganya.

Aku rasa kau pasti tahu, tak ada seorang ibu yang ikhlas anak gadisnya diperlakukan serendah ini. Tak ada satu keluarga pun yang rela salah satu bagiannya dihempaskan sejauh ini. Tak ada satu sahabat pun yang rela saudara tak sedarahnya mengalami sakit hati yang teramat dalam. Tak ada satu orang pun yang bisa menerima perlakuan sepengecut ini. Aku rasa kau pasti paham bahwa tak ada siapapun yang merestui tindakanmu. Kalau kau penasaran bagaimana rasanya, cobalah sejenak menjadi perempuan atau cobalah menyelami bagaimana rasanya perempuan sepertiku, seperti ibuku, seperti mamahmu dan seperti adik perempuanmu. Tak ada perempuan yang bisa menerima perlakuan seperti ini. Tak ada.

Tapi seburuk apapun perlakuanmu padaku dan pada kami, ada rasa terima kasih yang ingin aku sampaikan. Terima kasih telah mengantarkanku pada mimpi Tujuh Belas Januari Dua Ribu Enam Belas yang tak pernah terwujud sebuah pernikahan. Terima kasih telah membuatku menyadari bahwa kamu memang tak layak untuk dijadikan sandaran bagi masa depanku, ibuku dan adikku. Terima kasih telah memberikanku kesempatan untuk mendapatkan sosok adam baru dengan segala keistimewaannya. Dan yang terpenting, terima kasih karena telah mengajarkanku sebuah pengalaman berharga yang bisa aku ceritakan pada anak laki-lakiku kelak dan aku bisa mengajarkannya tentang sebuah tanggungjawab, komitmen dan konsisten sebagai seorang laki-laki sejati.

Kalau saja aku mau meminta, bisa saja aku meminta padaNya untuk memberikan keburukan pada hidupmu. Bukankah doa orang teraniaya itu cepat dikabulkan? Tapi tenang saja, aku tak mendoakan kau ditimpa keburukan. Hanya saja, kau perlu ingat, bahwa tidak mungkin kita menuai bunga mawar yang harum jika kita menanam bibit bunga bangkai. Itu saja.

Berdoalah semoga bibit bunga bangkai yang kau tanam sekarang tidak membuatmu terlalu mabuk, sempoyongan atau bahkan keracunan karena aroma menyengatnya ketika bunga bangkai itu sudah mulai tumbuh di masa depan, cepat atau lambat. Dan nikmatilah bahagiamu dengan pilihan bibit yang kau tanam sekarang.

Aku juga akan menuai semuanya. Semua keindahan yang DIA janjikan, cepat atau lambat, tapi pasti.


17 Januari 2016
by @valensia90

#valensia90 #cerita #cinta #patahhati #menikah #julianto #saputro #juliantosaputro #ijul #julikunto

Hai kamu, seharusnya dua hari lagi,.


Hai kamu yang disana, apa kabarmu? Apa sekarang kamu sudah ada dalam dekap dia ataukah kamu sedang di dekap sepi? Kemarilah sejenak. Tanpa perlu aku mengingatkan, kau juga pasti mengingat rencana awal kita dua hari lagi. Entah apa yang kamu rasakan saat bangun pagi tadi dan melihat tanggal hari ini di handphone kesayanganmu itu. Helaan nafas panjang ataukah senyuman yang merekah seakan tak terjadi apa2, hanya kamu yang mengetahuinya. Selama beberapa waktu sejak kamu memutuskan berbalik arah dan tak menoleh lagi ke arahku, pernahkah sekali waktu, bahkan sedetik saja, sempatkah kamu memikirkan kita? Memikirkan jalan yang pernah kita lalui dengan binar-binar suka cita penuh cinta? Memikirkan apa yang sudah kita rencanakan lalu kamu batalkan? Ataukah kamu melihat jalan yang pernah kita lalui menjadi sepi, karena jalan itu bukan lagi menjadi milik kita?

Tenang saja, bernafaslah dengan perlahan, jangan terlalu diburu dan terlihat emosi. Aku sudah tak berharap kamu kembali atau menginginkan kamu datang lagi di hidupku. Sekarang kamu sudah menempati tempat tersendiri di hatiku. Iya, di pojokan hatiku, ruangan kecil yang selalu aku gunakan untuk menyimpan hal yang sudah tak layak pakai. Kamu tak akan aku buang karena kamu akan tetap berdiam di sana bersama yang tak layak pakai lainnya. Tertutup rapat dan tidak akan pernah bisa terendus aromanya, bahkan oleh anjing pelacak sekalipun.

Biarkan aku bercerita tentang beberapa hal padamu. Tak perlu kita bertatap muka, aku juga enggan membuka pintu ruangan ini. Duduklah persis di belakang pintu. Aku juga akan duduk di depan pintu. Aku akan menceritakan padamu dengan suara yang sedikit lebih kencang agar kau bisa mendengarkanku dari balik pintu.
Kamu. Sosokmu yang friendly ketika awal perkenalan kita membuatku merasa seperti berkaca. Aku seperti melihat sosok diriku sendiri dalam sapamu. Perhatian-perhatian kecilmu kala itu seakan membuatku lupa bahwa aku baru saja menjadi seorang perantau di tanah timor ini. Lelucon-lelucon segarmu membawaku hanyut dalam tawa. Saat itu, seakan tak ada lagi masa lalu yang membelengguku. Yang aku lihat hanya secercah masa depan dalam matamu. Iya, masa depan yang kamu tawarkan sejak awal kita berjabat tangan.

Kamu. Kamu pernah menjadi sosok yang paling aku banggakan. Iya, dengan segala kekuranganmu, aku tak pernah kekurangan kata dan kalimat untuk membanggakanmu, selalu membanggakanmu di depan semua orang yang menanyakanmu. Tak pernah habis kataku setiap aku menceritakanmu pada mereka. Berada di sisimu, membuatku merasa menjadi wanita paling beruntung karena telah dipilihmu untuk menjadi ibu dari anak-anakmu kelak. Saat itu aku merasa, bahwa Tuhan sudah menjawab doa-doaku dengan mengirimkanmu sebagai laki-laki terakhir dalam perjalanan jatuh bangunku mencari sesosok adam yang bisa menjadi imam yang halal untuk memimpin sholatku dan anak-anakku kelak.

Kamu. Kebersamaan kita, detik demi detik hingga bulan demi bulan, kita lalui dengan sangat baik. Tak perlu aku menjabarkan satu per satu. Aku rasa, otakmu masih sangat cukup untuk menyimpan memori tentang detail bagaimana selama ini kita menghabiskan waktu bersama. Tapi entah jika sekarang memori itu sudah tak bisa terbaca atau bahkan sudah kau cungkil dan kau keluarkan dari otakmu. Ahh..tapi sudahlah, ada atau tidaknya memori itu sekarang, yang jelas, kau tetap tak bisa memungkiri, bahwa kau pernah memberikan cintamu yang meluber untukku.

Kamu. Entah apa yang sedang kamu lakukan di sana sekarang. Di duniamu yang baru. Di duniamu yang sudah tanpa aku. Di duniamu yang mungkin sudah lebih hangat dengan dekapannya. Di duniamu yang bisa jadi lebih tenang dengan tawanya. Ataukah sekarang dunia barumu hanya dipenuhi dengan penyesalan yang coba kau enyahkan?

Kamu. Ketahuilah, melewati hari-hari dalam minggu ini bukanlah sebuah hal yang mudah buatku. Aku hanya sesosok wanita biasa yang sudah terlanjur tenggelam dalam angan-angan sebuah momen sakral bak cinderella yang dipersunting pangerannya. Aku memang sudah tercebur dalam kubangan impian indah yang sudah kau buatkan untukku selama beberapa ratus hari terakhir kebersamaan kita. Aku memang masih berada di dalam kubangan itu. Aku belum mengeringkan diriku yang sudah terlanjur basah dengan ribuan kubik impian indah masa depan yang sudah kau buatkan untukku itu.

Aku memang harus mengakuinya padamu. Satu minggu terakhir menuju 17 Januari ini memang minggu terberat yang harus aku lewati. Satu minggu dengan hari-hari dimana saat siang aku bisa tertawa kencang bersama teman-temanku tapi malamnya aku bisa menangis pilu hingga harus berakhir dengan Alprazolam dan Serenade agar aku bisa tertidur pulas sampai pagi. Aku tak malu harus mengakui ini padamu. Bahwa kau masih menjadi penyebab utamaku menangis hingga sesak yang teramat sangat di dada. Iya, tangisku memang semakin menjadi di malam ini, malam dimana seharusnya kita sedang duduk berdampingan di dalam kendaraan menuju tanah kelahiranku.

Sekali lagi, tenang saja, aku menulis ini bukan untuk merengek memintamu kembali. Tetaplah pada pilihanmu. Pilihanmu untuk berbalik arah tepat di dua minggu menjelang momen sakral kita dan pilihanmu untuk menetap di tempat baru untuk menemukan apa yang kamu cari yang akhirnya tidak kau temukan di aku. Jangan pernah kembali karena aku juga tak akan memintamu kembali. Aku juga tak akan memaksa diriku untuk segera menyembuhkan lukaku karena ulahmu. Perlahan, waktu yang akan mengobati semua luka itu dengan sendirinya. Dan percayalah, aku akan berbahagia dengan pilihan yang sudah kau pilihkan untukku ini. Karena sebelum mengenalmu saja aku sudah bahagia. Jadi tak ada bedanya aku bahagia setelah tanpamu.

Malam ini, sejenak terbersit di benakku, iya, seharusnya dua hari lagi. Tapi aku tak pernah menyesali apa yang sudah terjadi. Apapun yang terjadi sekarang, aku rasa DIA sudah sangat sempurna merancang skenarioNya untuk hidupku. Menunjukkan segala sesuatunya dengan tepat dan aku mendapatkan porsi yang sesuai dengan kemampuanku. Kamu memang sudah memilih dan bukan salahmu memilih pergi. Hanya saja, aku yang salah meletakkan kepercayaan dan harapan sepenuh hatiku pada laki-laki sepertimu. Jadi, berbahagialah dengan pilihanmu ini, tuan. Semoga kerikil-kerikil yang kamu taburkan sekarang tak menjadi batu kokoh yang bisa menghalangi bahagiamu di masa depanmu nanti.



15 Januari 2016
by @valensia90

Pergilah, Aku dan Dua Wanita Terhebatku (Berusaha) Merestuimu


Berada di titik sekarang ini, bukanlah sebuah perkara yang mudah. Aku sama sekali tidak mudah percaya pada seorang laki-laki setelah sosok lelaki pertamaku itu menyakiti hati kami bertiga. Ketika kamu datang, menawarkan masa depan yang tidak hanya untukku, tapi juga untuk dua wanita paling berharga dalam hidupku, aku menanyakan kesungguhanmu menerima kami. Tak ada keraguan, tak ada belas kasihan, tak ada keburukan. Yang ada hanya keyakinan, ketulusan dan kasih sayang yang terpancar dari mata sayumu itu.

Perjalanan kita menuju detik ini bukanlah hanya sebuah perjalanan biasa. Bukan hanya perasaan kita berdua yang terlibat, tapi juga melibatkan perasaan puluhan pasang mata keluarga besar kita yang menyaksikan betapa mereka ikut bahagia untuk kita saat momen itu. Tentu saja kau juga masih ingat bagaimana DIA mempermudah segala proses kebersamaan kita. Perkenalan singkat dan restu kita dapatkan dengan sangat mudah, bahkan tempat kita mengabdi pada negara pun saling bersebrangan. Dan kau juga tentu masih ingat bukan, kau pernah mengatakan, perjalanan kita begitu dimudahkanNya, ini seperti sebuah tanda bahwa kita memang ditakdirkan untuk bersama.

Masih teringat jelas bagaimana kita mempersiapkan satu per satu demi momen sakral kita nanti. Tentang keinginanku membuat wedding invitation dalam bentuk video stop motion yang kamu tanggapi dengan sebuah keheranan tapi kemudian setelah melihat hasilnya kamu tersenyum sangat puas. Tentang keinginanmu membuat desain karikatur kita dengan menggunakan jersey tim hitam putih kesayanganmu itu yang aku sambut dengan sedikit cemberut lalu tersenyum mengiyakan. Tentang keinginanku menggunakan segala pernak pernik yang berhubungan dengan warna biru dan akhirnya kamu iyakan pula. Tentang planning menabung demi menyediakan taman untuk tempat anak-anak kita bermain dan berlarian. Tentang Labuan Bajo yang mempesona untuk kita tapaki pasir pinknya sambil bergandengan tangan. Tentang Nusa Tenggara Timur yang mempertemukan kita dan harus kita jelajahi satu per satu pesonanya. Tentang rencana kita mendedikasikan hidup kita untuk 1000 Guru Kupang karena disitulah kita bersua dan memutuskan untuk menua bersama. Tentang perdebatan kecil kita saat kau menginginkan anak pertama kita lahir di tanah kelahiranmu tetapi aku menginginkannya lahir di kota karang. Tentang mamah dan ibu yang akan gantian datang ke kota karang untuk membantuku menjaga anak kita saat aku sudah kembali bekerja nantinya. Tentang keinginanmu menjadikan pengeran kecil kita nanti tumbuh menjadi seorang pilot yang kemudian aku sambut dengan cemberut tanda tidak setuju karena takut pangeranku jarang pulang meski untuk sekedar memeluk ibunya ini. Dan tentang banyak lagi rancangan masa depan yang sudah kita susun dan kita tata satu per satu diselingi dengan gelak tawa atau bahkan perdebatan-perdebatan kecil ketidaksetujuan. Tak perlu aku menanyakannya. Aku yakin, kau pasti masih mengingatnya dengan jelas, bukan?

Menerimamu, memilikimu dan bersanding menjadi satu-satunya wanita dalam hidupmu adalah salah satu keinginan terbesarku saat ini. Saat kamu memintaku untuk menjadi ibu dari anak-anakmu, binar-binar ketulusan terpancar jelas dari mata sayumu. Hari-hari yang kita lewati bersama, setiap detik yang kita nikmati dengan kebersamaan setelah aku mengiyakan semua penawaran menjalani masa depan bersamamu adalah saat yang paling sempurna dalam hidupku. Akhirnya ada lelaki yang bersedia menerimaku dan dua wanita terhebatku tanpa syarat apapun dan bisa menyayangi kami bertiga dengan sepenuh hati itu adalah anugerah terindahku. Dan akhirnya aku menemukan sosok seiman yang selalu aku rindukan hadirnya demi kelak bisa melafazkan adzan di telinga malaikat kecilku saat dia datang di dunia ini yang tak bisa aku dapatkan pada sosok masa laluku.

Menjelang beberapa belas hari lagi ini, ketika semua persiapan menuju momen sakral itu sedikit demi sedikit sudah mulai tertata, tiba-tiba DIA menguji kita dengan mengacaukan hatimu, menggoyahkan keyakinanmu dan memaksamu untuk berpikir ulang tentang momen sakral kita yang sudah tinggal belasan hari lagi. DIA memberikan ujianNya dengan melumpuhkan ingatanmu tentang persiapan-persiapan kita, melumpuhkan nuranimu, melumpuhkan rasamu yang sempat meluber padaku dan dua wanita terhebatku. Dan DIA juga mengujimu dengan bagaimana kau harus tetap menjaga hati kedua orangtuamu seperti gelas yang rentan pecah. Kau ingat? DIA tak pernah menguji hubungan kita dari awal. DIA mempermudah perkenalan, pertemuan, lamaran, dan segala proses kebersamaan kita hingga saat ini menuju beberapa belas hari momen sakral kita. DIA itu mengujimu, menguji aku, menguji kita. Menguji seberapa kuat keinginan kita untuk bersama, menguji seberapa dahsyat rasa cinta kita, menguji sampai dimana kita bertekad untuk meraih surgaNya dengan kebersamaan yang halal. Seharusnya kau bisa melewati ujianNya ini. Seharusnya kau ingat bahwa kita sedang diuji. Dan aku sudah mencoba meyakinkanmu. Seharusnya kau percaya aku seperti kau memintaku percaya padamu sejak awal. Iya, seharusnya. Seharusnya.

Kau ingat, ini cobaan terberat kita yang pertama kalinya. Perjalanan kita untuk sampai ke detik ini selalu dimudahkanNya. Harusnya kau ingat itu. Harusnya kau tidak menyerah pada cobaan terberat kita ini. Harusnya kau masih bisa mempertahankan rasamu, keyakinanmu, mempertahankan kita. Harusnya kau mengingat bagaimana kau menginginkanku dengan sekuat itu. Iya, harusnya, harusnya kau melihat ke belakang, bagaimana kita bisa dengan sangat mudah hingga bisa berasa di detik ini, beberapa belas hari menuju momen sakral kita. Harusnya, harusnya dan harusnya.

Tapi kau menyerah. Keputusanmu menyudahi semua ini beberapa belas hari sebelum ikrar suci kita ini merupakan pukulan telak bagiku dan bagi kedua wanita terhebat di sisiku. Bukan hanya kami bertiga, tapi kau memang telah melukai hati orang-orang yang sudah tulus mendoakan kita, mendoakan setiap langkah kita, menyebut nama kita dalam setiap tengadah atau lipatan tangan mereka. Entah apa yang terjadi, penjelasan pun tak kau berikan. Lalu aku bisa apa selain berusaha berhenti dan sadar, mungkin memang inilah garis finishku. Garis dimana aku harus berhenti menoleh ke arahmu, garis dimana aku harus berhenti memaksa kehendakku untuk mempertahankanmu, garis dimana aku harus berhenti bermimpi menjadi orang pertama yang membuatmu sadar di pagi hari, garis dimana aku harus berhenti membayangkan kau selalu mengusap wajahku setiap kali aku akan tertidur.

Aku sudah mencoba menyelamimu. Mengingatkanmu tentang semua momen kita. Tapi semua seakan sudah tak ada artinya. Kau ingin menyudahi semua ini sekeras inginmu saat kau menginginkanku menjadi ibu dari anak2mu. Sekarang, aku sudah mulai lelah mencoba mempertahankanmu dan mengingatkanmu tentang momen sakral yang sudah tinggal beberapa belas hari lagi. Aku sudah lelah berusaha memahami tujuan dari setiap cara yang kau lakukan. Kau sudah terlalu asing buatku. Otakmu juga sudah tak lebih kerasnya dari batu dan aku sudah tak punya waktu lagi untuk mengalirkan air agar bisa merasuki otakmu lagi. Sekarang aku sudah berada di satu keadaan, satu keadaan puncak rasa lelahku, puncak serendah-rendahnya harga diriku, puncak sakit hatiku.

Satu pesanku, Tuan. Jangan sampai kau tak temukan keyakinan sepenuh hatimu di ujung perjalananmu karena kau sudah terlalu menginjak-nginjak hati ini setelah kau meragukan dan menyudahi komitmen yang kita buat bersama untuk ikrar suci kita yang tinggal beberapa belas hari lagi.

Kau mau kembali?
Atau,
Kau tetap mau pergi?
Jika iya, pergilah, aku dan dua wanita terhebatku (berusaha) merestuimu meski tanpa sepatah kata maaf dan penjelasan apapun darimu.


05 Januari 2016
by @valensia90

x