Kamis, 01 September 2016

Kicau. Racau. Kacau


Malam yang dingin dengan ditemani sinar terang bulan purnama terasa begitu meneduhkan. Jarang sekali kota ini menjadi dingin. Segelas blackcurrant tea yang ada di hadapanku pun tak membantu menghangatkan diri. Tak banyak yang aku lakukan di malam seperti ini. Menikmati semilir angin dari jendela kamarku sambil dirangkul selimut adalah kegiatan rutinku setiap malam, seperti malam ini.

Sebuah notifikasi dari smartphoneku membuatku mencari dimana letak benda kecil itu. sebuah pesan dari salah seorang sahabat. Sebuah gambar dengan catatan kaki, “apa-apaan ini?”. Sedikit tersentak setelah mengetahui gambar apa yang dia kirim. Screenshot kicauan di sebuah sosial media. Cukup menggelikan ketika aku melihat siapa yang berkicau itu.

Ada hal menggelitik benakku setelah membaca kata demi kata yang ditulis si pengicau itu. Mungkin dia tak sadar bahwa dia sedang mengicaukan tentang dirinya sendiri. Mungkin juga dia sudah lupa, apa yang dia tertawakan di kicauannya itu adalah tindakannya sendiri. Mungkin pula dia lelah dengan kehidupannya yang tak menemui jalan bahagia. Dan mungkin saja serabut-serabut saraf di otaknya sudah tak lagi berkesinambungan.

Seorang laki-laki yang mengaku sudah dewasa ternyata tak lebih dari balita yang bahkan belum bisa calistung. Seorang laki-laki yang meracau di dunia maya tak ubahnya si princess yang sedang bercerita tengah liburan di Perancis. Seorang laki-laki yang katanya akan menjadi seorang bapak tapi nyatanya tindakannya tak lebih jantan dari seekor burung yang tengah terbang menerjang panasnya hari hanya untuk mengantarkan sebuah makanan untuk anak-anaknya yang sedang kelaparan di atas pohon. Sebutan apa yang sebenarnya bisa menggambarkan sosok laki-laki seperti itu?

Entahlah, palu sebesar apa yang bisa dibuat untuk memukul kepala bulatnya itu agar otaknya bisa kembali bekerja. Atau haruskah aku sediakan kaca sebesar layar bioskop agar dia bisa melihat seperti apa dirinya yang sebenarnya? Hey! Berhentilah merasa benar. Sudah cukup kau menjadi orator yang berkoar-koar tentang kebenaran menurut versimu itu. Percuma saja. Karena hal itu semakin menjadikanmu orator ulung. Dan satu hal lagi, segala remeh temeh tentang kicauanmu itu tak akan pernah lagi membuatku menangis tersedu menyesali kepergianmu. Yang ada, jemariku semakin lincah merangkai kata demi kata yang pada akhirnya dibaca ribuan bahkan ratus ribu orang di luar sana.
Sebelum kau berkicau lagi tentang sebuah provokasi, haruskah aku mengajarimu tentang sebuah etika? Etika yang sepertinya tak pernah kau pelajari bahkan di usiamu yang menuju kepala tiga. Etika sosial yang tak juga kau indahkan. Haruskah aku mengingatkanmu bahwa meninggalkan anak gadis orang tanpa kata di depan gerbang pernikahan itu adalah sebuah kepengecutan? Bukankah tindakan pergi tanpa sepatah kata apapun dengan persiapan pernikahan yang sudah 90% itu juga sebuah perbuatan yang tidak menyenangkan sekaligus pencemaran nama baik keluarga besar? Tak perlu lagi kan aku menuliskan dengan detail segala tindakan bodoh dan pengecutmu itu? Karena tentunya kau dan keluarga besarmu masih ingat bagaimana kalian telah mempermalukan dan mempermainkanku sekaligus keluarga besarku. Kecuali memang memori di otakmu sudah tertimbun bantalan lemak.

Tanpa aku harus berkicau bak seorang perempuan yang merintih karena sebuah pengkhianatan yang terjadi di gerbang pernikahannya, apa yang sedang kamu lakukan sekarang sudah menjawab segala tanya yang timbul. Kata demi kata yang kau tulis dalam kicauanmu menjadi sebuah kutipan-kutipan yang bisa melengkapi beberapa narasiku tentangmu setelah kau pergi sambil mendorongku hingga terjerembab. Tak sadarkah kau bahwa beberapa kicauanmu itu bisa membuat wanita yang sekarang memanggilmu dengan sebutan suami merasa akan salah telah menitipkan masa depannya padamu setelah dia dengan sadar memotong impianku di depan gerbang pernikahanku? Betapa pedih hatinya jika dia tahu bahwa ternyata kau masih asyik mengomentari kehidupan wanita yang telah dia curi senyum bahagianya?

Ataukah memang hidup kalian sekarang tak bisa tenang setelah mengoyak harga diriku dan keluarga besarku dengan permainan kotor kalian menjelang beberapa belas hari ikrar suciku? Dan apakah lelakimu ini tak cukup bahagia setelah memilih berpaling padamu di depan gerbang pernikahanku dengannya, hai wanita? Dan apakah wanitamu ini baru merasa bersalah telah merebut yang bukan milik di detik-detik pernikahan orang lain, hai lelaki? Kalau memang itu terjadi, entah kata apa yang bisa aku gambarkan untuk kalian. Nyatanya, aku memang belum berniat berdamai dengan tindakan yang telah kalian lakukan. Luka yang kalian ukir perlahan sudah mulai sembuh, jadi tak usahlah meracau lagi. Perlahan pula, seiring berjalannya waktu, aku juga pasti akan lupa dengan segala rasa nyeri di dada karena kalian meskipun tak pernah ada kata maaf yang terucap dari bibir kalian.

Sesekali, melihatlah ke bawah agar kau tak tersandung jika kau selalu berjalan sambil mendongak ke atas. Berhentilah merasa menjadi korban. Berhentilah merasa benar. Karena kebenaran yang sejati tak perlu dijabarkan. Ia akan menunjukkan dirinya sendiri tanpa diminta. Dan tak usahlah membuang waktumu untuk membela kebenaran. Karena kebenaran tak butuh dibela. Ia akan membela dirinya dengan caranya sendiri.

Jangan pernah kau lupa bahwa kau telah menjalani hidupmu dengan tak bersikap sebagai laki-laki sebelum kau menikmati hidupmu yang sekarang. Jangan lagi kau merendahkan dirimu sendiri dengan melakukan tindakan bodoh untuk kesekian kalinya. Tak bosankah kau menjadi lelaki yang hanya bisa berkicau tak ubahnya burung kenari? Tak inginkah kau belajar menjadi laki-laki sejati? Atau lupakah kau dengan tanggungjawab dan kewajibanmu sebagai lelaki? Lupakah kau bahwa menjadi kepala keluarga itu tak semudah mengicaukan hidupku yang telah kau kacaukan? Hidup tak cipirili seperti kata Dulce Maria, bung. Dan kantong ajaibnya Doraemon pun tak akan pernah ada di dunia nyata.

Pada saatnya nanti, kau akan risau ketika kicau yang kau tanam telah berbuah menjadi kacau. Jadi berhentilah berkicau. Berhentilah meracau. Karena tanpa kau sadari, hidup sekarangmu yang kau awali dengan mengacaukan hidupku akan semakin kacau dengan racauanmu yang tak berbobot itu.


Ini hanya saran dariku. Tapi kalau memang kau masih sanggup menerima tambahan akibat dari sekian sebab yang sudah membuatku terjerembab karenamu, silahkan saja lanjutkan kicauanmu. Karena di hidupku, kicauanmu hanya akan masuk dalam spam, bukan dalam inbox.

Kamis, 05 Mei 2016

Rindu.

“Kenapa kamu gak nikahin aku ajah dari dulu kalau masih ada kata rindu?”, ujarku memecah keheningan malam itu. “Bi, kita ketemu seperti ini rasanya gak enak banget di hatiku. Kamu tahu, Bi. Bahkan aku rasa kamu sangat tahu. Kamu masih satu-satunya orang yang tetap tinggal di hatiku sampai detik ini. Kamu juga tahu kalau aku gak akan pernah bisa melupakanmu. Ketemu sembunyi-sembunyi gini bikin kita kayak tawanan yang tinggal nunggu di pergokin sama petugas penjara tahu gak sih, Bi? Kamu juga pasti tahu kalau aku gak akan pernah bisa nolak diajakin ketemu kamu. Rindumu masih sama dengan rinduku, Bi. Rasa kita mungkin memang masih sama”, lanjutku.

Bian menghela nafas panjang. Dia menatapku dengan gusar. Keringat menetes dari keningnya. Satu tahun sudah kami tak pernah bertatap muka seperti ini. Jangankan untuk bertatap muka, mendengar suaranya saja sudah tak pernah. Dan malam ini adalah hari yang sebenarnya memang aku tunggu. Bertemu Bian meski dengan keadaan yang sangat jauh berbeda.

“Aku kangen kamu, Ay. Aku rasa gak perlu lagi aku menjelaskan kenapa aku gak nikahin kamu setelah ribuan hari aku lewatin sama kamu. Kamu juga gak perlu lagi nanyain hal yang sudah kamu tahu jawabannya. Luka kita sama, Ay. Aku minta maaf karena caraku mengakhiri semuanya mungkin membuatmu sangat terluka. Tapi saat itu gak ada hal lain yang bisa aku lakukan. Kamu tahu posisiku, Ay. Kita gak perlu lagi mengorek luka yang sedikit demi sedikit sudah kita coba obati ini kan, Ay?”, ujar Bian dengan mata berkaca-kaca.

“Aku tahu. Tapi kenapa harus ada kata rindu lagi setelah satu tahun semua berlalu, Bian? Kenapa kamu gak perjuangin aku dan kita menikah saja dulu?”, ucapku dengan nada yang mulai meninggi. “Kamu pikir enak ada di posisi yang harus meninggalkan? Kamu tahu, aku bukan tipe orang yang bisa meninggalkan orang lain tanpa beban. Kenapa? Kenapa? Kenapa? Kenapa sih kamu harus nanyain pertanyaan yang kamu sudah tahu jawabannya? Perlu aku ulangin lagi semua yang sudah kamu tahu? Aku gak bisa jadi imammu saat kamu sholat. Aku gak bisa sholat Ied sama kamu waktu hari raya. Aku gak bisa halal bagi kamu menurut agamamu. Aku membuat kamu dicibir sama keluarga besarmu. Kamu gak bisa bersamaku di altar dengan sepenuhnya. Kamu gak bisa misa sama aku. Kamu gak bisa ada kalau anak kita di baptis nantinya. Kamu sudah tahu semua alasan itu, Ay. Please jangan jadikan aku seperti tersangka. Aku sayang sama kamu, Ay. Aku mengambil keputusan itu karena aku tahu aku gak bisa jadi laki-laki yang baik menurut agamamu”, sambung Bian juga dengan nada meninggi.

“Bi, Biiii, Biiii, aaaa..aa..a..ku takut, Bi. Aku takut semua ini memperburuk suasana”, ujarku sambil mulai menangis. “Ay, kamu masih ingat kan? Aku pernah bilang sama kamu. Aku akan benar-benar melepaskanmu kalau sudah ada laki-laki yang seiman denganmu dan dia lebih baik segalanya dari aku. Dan saat kamu menceritakan tentang laki-laki itu, memberitahukan padaku betapa dia sangat memperlakukanmu, ibu dan adikmu dengan sangat baik, saat itu pulalah aku merasa bahwa memang saatnya aku harus melepaskanmu. Membiarkanmu berada di pelukan laki-laki yang bisa halal bagimu menurut agamamu. Kamu juga pasti ingat, selama kita bersama, gak pernah sekalipun kita bertengkar. Memang pada akhirnya saat kita pisah, kita memang bertengkar hebat. Tapi sekarang, kita kembalikan perdamaian itu meski dengan situasi berbeda. Kamu bawa kedamaian itu ke jalanmu, begitupun aku”, ujar Bian sambil memegang tanganku.

Aku menggenggam erat tangannya. Tangan yang masih sama seperti setahun lalu. Tangan yang ukurannya jauh lebih besar dari tanganku. Ketika aku menggenggam tangannya seperti ini, aku selalu merasakan kehangatan yang sudah tak lagi ku rasakan sejak satu tahun lalu. Tapi kali ini situasi kami sudah berbeda. Sesosok laki-laki seiman yang aku ceritakan pada Bian telah meninggalkanku tepat di beberapa belas hari sebelum pernikahanku dengannya. Dan ketika menggenggam tangan Bian kali ini, ada yang berbeda. Di jari manisnya sudah melingkar sebuah benda berwarna kekuningan. Ketika jemariku menyentuhnya, aliran darahku seakan berhenti dan dadaku menjadi sangat sesak seperti kekurangan oksigen.

“Ay, aku pernah bilang kan? Dia itu seperti kamu. Bersamanya seperti bersamamu. Hidup dengannya seperti hidup denganmu. Bagiku, dia itu kamu, Ay. Awalnya aku selalu berpikir seperti itu. Tapi akhirnya aku sadar, tanpa dia sadari, aku hanya akan menyakiti dia jika menyamakannya denganmu. Aku juga akan lebih membuatmu sulit melepaskan kita jika aku selalu mengatakan bahwa dia itu sama dengan kamu. Aku juga akan selalu hidup terjebak dengan bayang-bayangmu padahal yang di hadapanku bukan kamu. Kamu tetap kamu, Ay. Bagaimanapun, sampai kapan pun juga, kamu punya tempat tersendiri di sini, tak akan ada yang bisa menggantikannya”, ujar Bian sambil meletakkan tanganku di dadanya.

Aku tak bisa berkata apapun. Saat-saat seperti ini aku hanya bisa merebahkan kepalaku di pundaknya. Pundak ini yang selalu menjadi tempatku berbagi lelah selama ribuan hari kebersamaan kami. Pundak ini pulalah yang selalu basah karena air mataku ketika aku tak bisa membendung tangis karena beratnya cobaan hidup yang aku alami. Genggaman tangan ini juga yang selalu menguatkanku saat aku terjatuh dan terhempas karena badai-badai kehidupan yang menghampiriku. Tapi tangan ini pula yang akhirnya melepaskanku dan menggenggam tangan yang lain saat memasuki rumah ibadahnya untuk menuju altarNya dan mengikat janji sehidup semati.

“Di balik semua yang kamu alami sekarang, semua masalahmu sejak dua tahun lalu yang belum ada penyelesaian ini dan kepergian laki-laki pengecut itu tepat di beberapa belas hari sebelum hari pernikahanmu, percayalah DIA sudah menyiapkan pelangi terindah untukmu. Aku tahu kamu wanita hebat. Tak ada kata menyerah ya, Ay. Ibu dan adikmu sangat membutuhkanmu. Mau jadi apa mereka kalau kamu menyerah. Ingat, hidupmu sekarang hanya untuk membahagiakan mereka. Jadi obati dengan perlahan rasa sakitmu sekarang. Lupakan laki-laki yang sudah menyia-nyiakanmu itu. Dia tak pernah tahu bahwa ada aku yang sangat terpukul ketika harus melepaskanmu untuk dia yang aku harapkan bisa menjadi imam yang baik untukmu dan anak-anakmu kelak. Aku selalu membawamu dalam setiap doaku, Ay. Kita akan menemukan bahagia dengan jalan kita masing-masing. Tak perlu kau tanyakan bagaimana rasaku ke kamu. Akupun begitu, tanpa perlu aku bertanya, aku tahu semua rasa itu masih belum berubah”, ujar Bian dengan suara yang mulai serak.

“Aku tahu, Bi. Aku tahu kenapa kamu mengajakku bertemu sekarang. Kamu tahu, betapa aku merasakan di hempas yang teramat sangat saat ini. Dua tahun aku mencoba berdiri tegar melawan sakit yang timbul. Mencoba menjadi yang terdepan untuk melindungi dua wanitaku itu. Tapi kau juga pasti tahu betapa rapuhnya aku yang sebenarnya. Saat laki-laki pengecut itu datang dan aku menceritakannya padamu, seketika itu pula kamu mengiyakan untukku menerima dia, saat itu aku seperti punya harapan baru. Aku memang sudah tak seharusnya terus berlindung di balik tubuh jangkungmu ini, itu mengapa aku memutuskan mengikuti saranmu, tak harus laki-laki sepertimu asalkan dia seiman dan bisa memuliakanku, ibu dan adikku, itu sudah sangat cukup.  Itu kan yang kamu bilang saat itu padaku. Meski sekarang nyatanya, dia menggoreskan luka baru pada luka yang masih basah, dengan aku berada di sampingmu sekarang, menatapmu dari jarak yang paling dekat, merebahkan penatnya kepalaku di pundakmu dan mendengarkan semua ucapanmu, ini rasanya seperti di suntik obat penenang berdosis tinggi”, ujarku dengan tenang.

Bian tak berkata apa-apa, dia hanya menggenggam tanganku dengan makin kuat. Semakin terasa pula bahwa benda yang melingkar di jemari Bian menekan telapak tanganku. Aku tak bisa berbuat apa-apa lagi. Aku bahagia karena Bian juga bahagia. Melihat Bian dengan tubuh yang sudah mulai berisi pun cukup membuatku tersenyum lega. Dia telah merawat Bian dengan sangat baik. Aku hanya bisa berterimakasih padanya dari dalam hatiku karena dia sudah menggantikan posisiku untuk menjaga Bian.

“Ay, aku sudah merasakan bahagiaku bersamanya. Benar katamu dulu, tak ada bahagia yang lebih dahsyat dibandingkan bersimpuh menghadapNya bersama sosok yang menyebutNya dengan nama yang sama. Kamu juga harus bahagia. Bahagiakan dirimu sendiri. Nikmati apa yang kamu dapatkan sekarang. Pekerjaanmu. Karirmu. Travelingmu. Bahagialah untuk semua itu. Ibumu. Adikmu. Mereka prioritasmu. Ingat kata-kataku, harus benar-benar kamu ingat, aku tak mau mendengar bahwa kau menyerah. Kita masih bisa saling mendoakan. Kamu juga pasti sudah tahu kan kalau aku akan segera menjadi Ayah. Tiga bulan lagi aku akan melihat malaikat kecilku. Dari dalam perut ibunya, aku yakin dia juga ingin mendengar kamu menyebutnya dalam setiap doa baikmu untuknya”, ujar Bian yang aku sambut dengan sebuah anggukan kecil.

Malam ini aku benar-benar menyadari bahwa selama ini hanya Bian yang tetap ada di hatiku bagaimanapun keadaannya. Dialah satu-satunya lelaki yang aku butuhkan dalam hidupku. Tapi selama ini kenyataan selalu berteriak di telingaku bahwa dia juga satu-satunya orang yang tak boleh aku dapatkan. Dialah yang membuatku tahu bagaimana rasanya mencintai seseorang yang tak boleh dicintai. Dulu keadaan seperti ini membuatku merasa bahwa hidup ini tak adil. Tapi malam ini, aku bersyukur bahwa Allah sudah memberikan hidup yang seadil-adilnya untukku dan untuk Bian. Dengan kehidupan yang saat ini dijalani masing-masing, ketika tiga bulan lagi mailakat kecil Bian terdengar suara tangis kencangnya, ada ibunya yang pasti mendampinginya saat dia di baptis. Dan aku? Ketika kelak aku menikah, hamil dan melahirkan mailakat kecilku, aku tak perlu risau karena ada ayahnya yang akan melafalkan Adzan di telinga mungilnya.

Deru mobil yang berpacu dengan suara klakson kendaraan-kendaraan yang sedang lewat menjadi irama yang paling indah di telinga kami. Dan pundak Bian juga masih menjadi tempat ternyamanku untuk merebahkan segala penat dan sesak yang selama ini hanya aku pendam sendiri.


Kamis, 28 April 2016

Aku!

Ada rasa sesak yang menghimpit. Ada rasa penat yang mengakar. Ada rasa jemu yang merajam. Ada rasa ngilu yang menyiksa. Ada rasa pedih yang mengendap.

Kepercayaan yang disalahgunakan. Kesetiaan yang dipatahkan. Kenyamanan yang dienyahkan. Kebahagiaan yang dirampas. Kehilangan yang datang hampir bersamaan.

Tak mudah menjalani dua tahun terakhir ini. Hidup yang tak pernah terbayangkan akan terjadi padaku. Menangis tersedu karena laki-laki yang pertama kali aku lihat saat aku dilahirkan di dunia ini lebih memilih meninggalkan tiga berlian yang selalu dia jaga demi sebutir batu tak bernilai. Merasakan hati yang teramat patah setelah memutuskan untuk membiarkan sosok jangkung berhidung pinokio dan berambut pirang itu mencari sosok wanita yang bisa melafalkan Doa Bapa Kami bersama-sama dalam keluarga kecilnya kelak.  Membuncahnya bahagia saat ada sesosok laki-laki yang menawarkan masa depan tak lama setelah aku meminta padaNya akan sosok yang seiman. Dan menjelang dua minggu kami menjadi pasangan halal, ternyata dia juga memilih pergi, melupakan semua janji yang pernah terpatri, menerbangkan semua harapan dan menghancurkan maket masa depan yang sudah disusun bersama. Tak ada yang tersisa selain bualan-bualan omong kosongnya tentang masa depan yang masih saja terngiang-ngiang dalam telingaku. Tak lama berselang, dia bahkan telah mengucap janji suci dengan sosok lain yang dia bilang adalah sosok ketiga perusak suasana. Tak sadarkan dia bahwa bibit keburukannya akan berbuah hal yang sama di masa depan?

Aku layaknya seorang pesakitan yang membutuhkan udara bebas. Ingin rasanya aku kembali merasakan mengalirnya oksigen secara leluasa dalam darahku tanpa dihimpit sesak. Aku bahkan sudah lupa rasanya tertawa tanpa kepura-puraan. Aku tak lagi tahu apa itu ceria tanpa beban. Tapi aku masih bisa bernafas meski sesak, aku masih bisa berjalan meski terseok-seok dan aku masih sanggup menyiram antiseptik untuk luka di sekujur tubuhku. Inikah mata air di tengah gurun pasir? Inikah jalan buntu yang masih ada lubang tikusnya? Inikah putus asa yang masih berharap?

Tak banyak yang bisa aku lakukan. Bercengkerama denganNya di sepertiga malam terakhir menjadi obat penenang yang lebih dahsyat dibandingkan Alprazolam dan Sernade yang pernah ku telan. Bersujud lebih lama dengan sedu sedan tangis dan merayuNya untuk memberikan kekuatan tanpa batasNya lebih hebat daripada diinjeksi dua ampul Neurobion. Meracau dengan kata dan bermain dengan rangkaian huruf juga bisa menjadi teman baik yang tak akan menceramahiku, mencemoohku atau bahkan mengabaikanku karena menganggap aku terlalu lemah dan tak bisa beranjak dari sedihku.

Aku tak butuh cerita lucu untuk menghasilkan tawa dari bibirku. Aku tak butuh keramaian yang bisa hilang ketika aku pulang. Aku tak ingin mendengar kalimat “sudahlah untuk apa mengingatnya, segera lupakan semua yang telah menyayat luka di tubuhmu”. Aku juga tak mau terus berpura-pura menjadi kuat.

Biarkan saja aku mencoba secara perlahan. Biarkan aku bersahabat dengan waktu. Biarkan aku belajar sambil menjalani waktu tanpa terburu-buru. Biarkan aku menemukan mental bajaku dengan caraku sendiri. Biarkan aku menemukan kekuatanku meski harus menyentuh sumber lukaku. Jangan paksa aku untuk menuntut waktu mempercepat sembuhnya lukaku.

Kemarilah sejenak. Bawakan aku kasa dan betadine untuk mengobati lukaku. Siapkan aku pelukan terhangat saat aku menggigil kedinginan. Sediakan aku payung saat aku basah kuyup terkena hujan. Sokonglah aku dari belakang. Jadilah yang pertama menangkapku ketika aku terjatuh kembali di tengah perjalananku menemui waktu. Dan pinjamkanlah bahumu untuk sejenak aku merebahkan kepalaku yang terasa sangat berat ini.

Aku lelah.

Kamis, 07 April 2016

Sebuah Ungkapan Rasa


Kota ini masih saja setia dengan udara panasnya. Tak peduli pagi, siang atau malam, udara panas tetap menjadi sahabat karib kota ini. Seperti malam ini. Udara panas seperti malam-malam sebelumnya. Tak ada dingin yang merasuk kulit seperti suasana malam di kota kelahiranku.
Malam ini seiring dengan panasnya kota karang ini, ada rasa tak nyaman yang ku rasakan. Entah aku harus menyebutnya apa. Aku tak suka bila harus menyebutnya perpisahan ataupun kehilangan. Terlalu sakit rasanya jika harus berhadapan dengan dua hal tersebut ataupun salah satunya. Tapi tak bisa ku pungkiri, malam ini aku merasakan apa itu namanya perpisahan.
Bagiku kamu seperti saudara perempuanku selama berada di kota ini. Saudara seiman yang seringkali mengingatkanku bila aku mulai melalaikan perintahNya. Saudara yang selalu menggenggam kuat tanganku saat aku merasa takut yang tak berkesudahan. Saudara yang selalu memelukku erat saat aku merasa jatuh dan sakit. Saudara yang selalu bisa membuatku tersenyum dan percaya bahwa aku tak pernah sendiri di sini. Saudara yang tak sedarah tapi darahku juga ikut berdesir jika ada sesuatu hal yang terjadi padamu.
Esok adalah hari dimana kamu meninggalkan kota karang. Meninggalkanku terpapar matahari yang menyengat di kota ini. Meninggalkanku bermain pasir tanpamu. Meninggalkanku menikmati senja-senja indah tanpamu. Meninggalkanku menapaki setiap jengkal garis pantai sendiri. Ahhh..tidak, aku tak menyalahkanmu pergi meninggalkan kota ini dan meraih mimpimu di tempat kerjamu yang baru. Tapi aku hanya merasa kehilanganmu.
Terima kasih saudaraku. Terima kasih selalu bersamaku dalam satu tahun terakhir ini. Terima kasih selalu mengingatkanku untuk lebih dekat denganNya. Terima kasih selalu memberikan tanganmu untuk ku genggam saat aku merasa lemah. Terima kasih selalu memberikanku pelukan saat aku merasa jatuh. Terima kasih selalu membuatku merasa percaya bahwa apa yang aku alami sekarang ini adalah hal terindah yang sudah DIA takdirkan untukku. Terima kasih selalu bersedia mendengar keluh kesahku yang masih saja tentang sosok laki-laki masa laluku itu. Terima kasih selalu membuatku tertawa kembali setelah aku menangis tersedu setiap kita membahas tentang rasa sakit yang sudah timbul karena sosok masa laluku. Semakin aku urai, rasanya tak akan cukup rasa terima kasihku karena kehadiranmu.
Selamat berjuang di kota barumu nanti. Selamat menikmati suasana barumu di sana. Jangan pernah mau dikalahkan sama jarak. Sejauh apapun jarak kita nanti, selama itu masih bisa ditempuh, aku rasa tak ada alasan untuk kita tak saling bersua. Aku akan merindukan bermandikan pasir bersamamu. Aku akan merindukan menapaki garis pantai bersamamu. Aku akan merindukan mengabadikan indahnya senja bersamamu. Aku akan merindukan suasana TnT yang selalu heboh dengan rempongnya kita.  Aku akan merindukan pelukanmu yang selalu bisa menguatkanku. Aku akan merindukanmu, Vidya. Terima kasih sudah menjadi sosok saudara perempuanku yang tak pernah bosan mengingatkanku bahwa luka yang aku rasakan sekarang akan segera mengering. Aku beruntung pernah menghabiskan hari-hariku bersamamu. Jangan lupa mengunjungiku di sini. Kita masih punya janji menjelajah bumi Nusa Tenggara Timur bersama. Semoga Allah selalu melindungi setiap jengkal langkahmu di tempat barumu nanti. Kita akan bahagia dan harus bahagia, Vid. Hal terindah sudah DIA siapkan untuk kita pada waktu tepat yang sudah disusunNya untuk kita. I Love you my unbiological sister.

Minggu, 03 April 2016

Teruntuk kalian yang sudah berbahagia di atas perihnya lukaku


Ketika aku menuliskan ini, aku sudah tak lagi merasakan hati yang penuh dengan kecamuk. Mataku juga sudah tak lagi basah dengan air mata. Dan otakku sudah sangat menyadari bahwa Allah telah mencurahkan cintaNya yang sangat besar untukku.

Kebahagiaan kalian yang telah bersatu dalam ikrar suci pernikahan sudah kalian dapatkan. Kebahagian yang kalian peroleh dari tetesan air mata dan sakit hatiku. Tawa yang kalian tunjukkan tak lain di dapatkan dari merampas tawaku. Kebersamaan yang kalian rasakan sekarang itu telah melewati jalan hidupku dengan cara menginjak-nginjak harga diriku dan keluargaku. Masa depan yang akan kalian jalani juga terjadi setelah memotong jalan masa depanku.

Hai wanita yang sudah disebut sebagai istri. Kau pasti masih sangat ingat apa yang telah aku katakan tepat di hadapanmu hari ini. Kau telah berhasil mengoyak hatinya dengan hadirmu tepat di beberapa belas hari sebelum pernikahanku dengan laki-laki yang kau panggil suami itu. Kau juga telah berhasil membuatnya berpaling dariku dan membatalkan rencana yang sudah kami susun selama 6 bulan terakhir lalu dia melamarmu tepat di beberapa belas hari menjelang waktu seharusnya dia menikahiku. Tak usah bangga kau bisa memilikinya sebagai suami setelah kau menikung jalan yang sedang aku lalui bersamanya. Ini bukanlah sebuah kebanggaan. Melainkan adalah sebuah beban. Tak mudah menjaga seorang penghianat. Apalagi harus menghabiskan sisa umurmu bersamanya. Sungguh itu bukanlah sebuah hal yang mudah.

Dan kau laki-laki yang sudah disebut sebagai suami. Pasti tak akan pernah kau lupa bagaimana rasanya wajah yang basah karena disiram segelas teh di hari pertama pernikahanmu. Ceritakan pada anak laki-lakimu nanti bahwa kau pernah menjadi seorang pengecut, tak bertanggungjawab, tak punya komitmen dan tak memiliki etika sesaat sebelum menikahi ibunya. Didiklah anak laki-lakimu untuk menjadi laki-laki yang jauh lebih baik darimu. Meski aku tak yakin kau bisa melakukan itu. Karena darah penghianat dan pengecut akan tetap mengalir deras dalam tubuh anak laki-lakimu. Tapi setidaknya jadikan dia laki-laki yang tidak akan melakukan tindakan bodoh seperti yang kau lakukan padaku dan keluargaku.

Aku tahu, mungkin memang jalan jodoh kalian harus melewati aku terlebih dahulu. Tapi cara kalian untuk menuju pernikahan ini yang sangat tidak hormat. Kalian bermain api di belakangku. Kalian bermain kotor di luar penglihatanku. Sebenarnya aku juga tak segan-segan akan memberikan laki-laki itu padamu, hai wanita. Dan aku juga akan dengan senang hati merelakanmu memilih wanita itu meskipun kamu meninggalkanku tepat di beberapa belas hari sebelum pernikahan kita, hai laki-laki. Tapi kenyataannya kalian malah merajamku hingga aku berdarah-darah dan melangkah dengan terseok-seok. Sedangkan kalian tertawa dengan bahagia yang sudah di ubun-ubun karena akhirnya bisa menjadi sepasang pengantin dengan jeda hanya 103 hari dari waktu seharusnya laki-laki yang sekarang kau sebut suami itu menikahiku. Sungguh merasa luar biasakah kalian dengan melakukan hal tersebut padaku?

Aku akan tetap mengingat kalian. Mengingat bagaimana kalian membangun rumah tangga dengan langkah awal menginjak harga diriku dan keluargaku. Mengingat bagaimana kalian menanamkan memori kelam tentang sebuah penghiatan dalam otakku. Mengingat bagaimana kalian menggoreskan pisau untuk mengukir luka di sekujur tubuhku. Mengingat bagaimana kalian menyiram setetes demi setetes air jeruk nipis di atas luka basahku yang kalian buat lalu kalian tertawa bahagia sambil berlalu meninggalkanku yang sedang merasakan perih yang teramat sangat. Lukaku pasti akan mengering pada waktunya. Tapi luka kering pun akan tetap ada bekasnya. Bekas yang tak lagi perih tapi akan tetap terlihat sebagai bekas luka.

Seburuk apapun perlakuan kalian berdua padaku, satu hal yang perlu kalian tahu, aku tak pernah mendoakan hal buruk terjadi pada rumah tangga kalian. Tapi satu hal yang perlu kalian ingat, kalian mengawali rumah tangga kalian dengan menanam bibit bunga bangkai. Sampai kapanpun juga, bibit bunga bangkai tak akan pernah tumbuh menjadi bunga mawar yang harum. Tanpa aku mendoakan yang buruk, hal buruk yang kalian lakukan pada jalanku tetap akan memiliki imbas yang sama pada jalan kalian. Kalian pasti tak akan pernah lupa bagaimana sebab akibat terjadi.

Selamat menempuh hidup baru. Nikmatilah bahagia yang kalian dapatkan dengan cara menginjakku. Entah sekokoh apa bahagia kalian nantinya. Karena kalian telah membangun bahagia kalian dengan pondasi tetesan air mata dan perihnya sakit hatiku dan keluargaku.

Ini adalah surat pertama dan terakhirku untuk kalian. Aku tak akan sudi lagi membiarkan jemariku merangkai kata untuk menulis tentang kalian. Jangan sekali-kali kalian menginjakkan kaki dalam kehidupanku. Cukup sampai di sini saja kalian menggoreskan luka. Biarkan aku hidup dengan caraku untuk menyembuhkan luka yang kalian buat. Dan aku akan membiarkan kalian menjalani hari sambil menunggu waktu menuai apa yang kalian tanam padaku dan keluargaku saat ini. Selamat berbahagia.

Salam dari aku.

Wanita yang sudah bisa kuat berdiri meski dengan luka yang masih basah karena perbuatan kalian.

Jumat, 04 Maret 2016

Sepucuk surat untukmu, pria masa laluku yang sedang berbahagia.

Dear kamu,

Hai.. Pasti kau kaget menerima surat dariku ini. Apa kabarmu sekarang? Bagaimana pekerjaanmu? Apakah kau masih menjalani hobimu? Sudah berapa banyak tempat yang kau jelajahi untuk kau abadikan matahari terbit dan terbenamnya? Sebanyak apakah alam yang kau bidik dari lensa kamera kesayanganmu itu? Aku yakin, koleksi fotomu pasti sudah mendekati ribuan. Bukankah begitu?

Lewat surat ini, aku ingin sejenak mengajakmu untuk menengok masa lalu kita. Bercerita tentang indah kisah yang kita ukir di sana. Menikmati setiap ceritanya lalu tersenyum bersama. Sekali lagi aku katakan, aku hanya mengajakmu menengok, bukan untuk kembali. Kamu ingat saat kita berada di Pantai Balangan dan menjadikan batu karang sebagai tripod karena kau lupa membawa tripodmu? Atau tentang seorang turis berbadan tinggi besar di Uluwatu yang tiba-tiba berdiri di sampingku lalu berjongkok mengikuti tinggi tubuhku dan memintamu untuk memotret kami? Atau tentang seniman di Jogja yang meminta imbalan ketika kamu memotretnya? Atau tentang Tugu Jogja yang kita jelajahi di dini hari agar kau mendapat spot foto yang paling sepi? Atau tentang blusukan untuk mendapatkan foto satu buah pohon yang berdiri di tengah-tengah hamparan kebun teh puncak Bogor? Atau tentang duduk di bebatuan pinggir pantai Ancol hanya untuk memotret jembatan cinta yang penuh dengan ratusan manusia? Ahh..semua kisah yang pastinya masih kau ingat, bukan?

Terlalu banyak kisah yang terjadi selama beberapa tahun kebersamaan kita di masa lalu. Bulan ini adalah tepat satu tahun kita saling melepaskan. Banyak hal yang terjadi dalam satu tahun ini. Aku sudah mendengar tentang sosok wanita yang menggantikan posisiku di hatimu. Bahkan aku sudah sempat melihatnya secara langsung. Pasti kau bertanya-tanya dimana aku bertemu dia. Pernah sekali waktu aku melihatmu dengannya di sebuah pusat perbelanjaan. Memang kita tak sempat bertegur sapa karena dari kejauhan aku melihat tawa lepasmu bersamanya.

Kau juga pasti sudah mendengar tentang sesosok laki-laki baru yang hadir di hidupku dan menggantikan posisimu. Aku kira dia adalah sosok yang akan menua bersamaku dalam ikatan suci pernikahan. Tapi kenyataan berkata lain. Dia meninggalkanku tepat di beberapa belas hari sebelum ikrar suci pernikahan kami tanpa sepatah kata penjelasan. Sampai saat ini pun aku tak pernah tahu apa yang sebenarnya ada di benaknya. Ahh sudahlah. Tak usah membahas si pengecut itu. Terlalu memuakkan!

Kita memang sudah tak lagi bersama. Tapi bagiku, darimulah aku mendapatkan banyak hal berharga dalam hidupku. Kamu selalu bisa menghadapi emosi labilku dengan caramu. Kamu selalu bisa mengendalikan sifat kekanak-kanakanku. Sikap tenang dan penuh pengertianmu itulah yang menuntunku menuju kedewasaan. Aku beruntung pernah menjadi wanita yang kau perjuangkan. Aku bersyukur pernah merasakan kasih sayang tulus darimu. Aku berterima kasih karena kau telah mengemas perpisahan kita dengan sangat manis hingga aku tak mengerti apa itu sakit hati.

Tuhan sudah sangat adil mengatur kehidupan kita. Katamu DIA pasti mempertemukan dan memisahkan kita karena sebuah alasan yang paling baik untuk kita. Saat ini aku memang belum menemukan sosok pria yang menemaniku dengan sebuah kebersamaan halal hingga bisa menua bersamanya. Tapi kau selalu bilang, tak perlu aku menghabiskan waktu untuk berpikir siapa dia dan darimana dia berasal. Karena tanpa dipikir pun, sosok luar biasa itu pasti akan datang juga, pada waktu yang tepat.

Pada akhirnya, kita hanya bisa menyimpan kisah yang pernah kita lewati berdua. Kisah penuh kenangan yang kelak mungkin akan kita ceritakan pada anak dan cucu kita. Kau tak akan pernah hilang dari hatiku. Aku sudah meletakkanmu di tempat paling nyaman dalam hatiku. Bukan sebagai masa depan yang aku tuju tapi sebagai masa lalu yang pernah aku miliki.

Kali ini aku hanya ingin menyampaikan sebuah ucapan padamu. Selamat kau telah menemukan belahan jiwamu. Aku bahagia karena akhirnya ada sosok yang bisa sepenuhnya berada di altar bersamamu. Aku tenang karena sekarang kau tak lagi memasuki tempat ibadahmu seorang diri. Aku lega karena sekarang ada tangan yang bisa kau genggam selama kau beribadah. Aku bersyukur karena ada wanita yang bisa mengajari Doa Bapa Kami pada anak-anakmu kelak. Selamat berbahagia, pria masa laluku. Semoga Tuhanmu selalu melindungi keluarga kecilmu. Selamat menantikan kelahiran buah hati pertamamu.

Dari aku,
Wanita yang pernah menyebut Tuhan dengan nama yang berbeda denganmu.

Minggu, 21 Februari 2016

Melupakanmu itu bukanlah sebuah kewajiban tapi kepastian



Ceritaku memang masih tentangnya. Banyak yang menyampaikan padaku, "sudahlah, tak perlu lagi kau menulis tentangnya. Siapa dia sih sampai bisa meracuni otakmu seperti ini?". Bahkan ada yang bilang, "buang jauh-jauh dia. Meski kau bilang tak merindunya, tapi jika untaian kalimatmu masih berisi tentangnya, berarti kamu belum sepenuhnya melupakan dia. Lihatlah dia. Adakah dia merasakan kehilangan yang sama sepertimu?". 

Aku menyayanginya. Iya, sangat menyayangi dia. Aku sudah memberikan sebagian hatiku padanya. Aku sudah memberikan sepenuhnya percayaku padanya. Memang sekarang dia sudah pergi. Berlalu dengan membawa sebagian hatiku dan sepenuhnya percayaku. Tidak, bukan aku mengharapkannya kembali atau tak bisa menerima kenyataan dia sudah pergi untuk menjauh dari mimpi dan rencana yang sudah kami susun. Aku hanya ingin bilang, rasa sayang itu bukan tisu sekali pakai yang bisa di buang begitu saja apabila sudah selesai digunakan. Tapi hal ini juga bukan sebuah alasan bahwa aku akan terus tenggelam dalam kesedihan karena kehilangannya.

Bagi hampir semua orang, berusaha melupakan adalah salah satu cara mengobati kehilangan. Bagiku hal itu tidak berlaku. Ketika mataku bisa menatapnya tanpa sebuah rasa nyeri di dada, ketika aku merasa kuat meski ada bulir-bulir kristal bening jatuh dari pelupuk mataku dan ketika aku sudah terbiasa menjalani hari-hariku tanpa campur tangannya, bagiku itu adalah sebuah "kesembuhan" tanpa harus terpaksa menelan pil yang bernama "melupakan".

Aku tak akan pernah lupa segala hal tentangnya. Aku tak akan pernah lupa setiap detail bahagia yang pernah aku dapatkan ketika aku bersamanya. Aku tak akan pernah lupa tiap penggalan cerita kita. Aku tak akan pernah lupa bagaimana bentuk wajahnya. Aku tak akan pernah lupa siapa namanya. Aku tak akan pernah lupa sejauh apa perjalanan yang sudah aku tempuh bersamanya. Dan aku juga tak akan pernah lupa tiap nyeri yang sudah dia sentil ke hatiku. Itulah mengapa, aku tak akan pernah berusaha melupakannya. Dia akan tetap berada di hatiku. Di sebuah ruang di dalam hatiku, tempat dimana aku meletakkan hal-hal yang tak layak pakai.

Aku memang merasakan luka karenanya. Tapi aku tak akan pernah memaksa waktu untuk mempercepat kesembuhan lukaku. Tak ada yang ku kejar. Tak ada yang ku tunggu. Jadi untuk apa aku memburu waktu untuk mempercepat kesembuhan lukaku? Yang perlu aku lakukan sekarang, hanya bersahabat dengan waktu. Berjabat tangan dan mungkin sesekali bercengkerama dengan waktu. Aku hanya perlu belajar menjalani semuanya bersama waktu. Berdamai dengan waktu tanpa harus terlalu ikut arusnya.

Aku tak akan mati-matian untuk berusaha melupakannya. Berkata pada dunia, "hai, aku sudah melupakannya. Aku sudah berhasil mengeyahkan dia dari hatiku. Otakku sudah tak menyimpan memori apapun tentangnya". Aku tak akan memaksa diriku sendiri untuk melakukan itu. Aku tak akan menyiksa diriku sendiri dengan sebuah tuntutan untuk melupakannya. Aku tak akan takut untuk mengakui bahwa diam-diam dalam sujudku aku masih terisak tiap kali mengingat semua luka yang dia torehkan. Aku tak akan menggadaikan tiap penggalan cerita kita pada waktu. Aku juga tak akan menghanguskan kepada sesal tiap bahagia yang sudah kita pintal bersama.

Aku memang hidup di hari ini. Tapi aku juga bisa hidup di hari ini karena masa lalu. Aku sudah berjabat tangan dengan tiap sesi di masa laluku, baik yang manis sampai yang pahit. Jadi untuk apa aku harus menyiksa diriku untuk berusaha melupakannya? Bagiku, melupakan itu bukanlah sebuah kewajiban tapi kepastian. Kepastian yang tak di buru waktu. Karena waktu pasti akan datang untuk memenuhi tujuannya.

Julianto Saputro @julikunto and Yualeny Valensia @valensia90 Wedding Invitation


Story Of Us

Sabtu, 20 Februari 2016

Pulanglah, aku merindukanmu..


Setelah sekian lama kita tidak bercengkerama, bolehkah malam ini aku meminta sesuatu darimu? Aku ingin merebahkan kepalaku di pundakmu. Aku ingin melepaskan penatku di bahumu. Aku ingin menumpahkan sedihku pada rengkuhan pelukmu. Aku ingin merasakan hangatnya genggaman tanganmu. Aku ingin mendengarkan merdunya suaramu. Aku minta, izinkan aku merasakan semua itu lagi, malam ini.

Kau tahu? Betapa aku sedang merasakan duka. Merasakan rasa sakit yang luar biasa. Merasakan sepi yang teramat dalam. Merasakan pedihnya diabaikan. Merasakan tersiksanya diinjak-injak. Hidup terasa begitu kejam. Aku merasa seperti seorang narapidana. Aku seperti sedang menerima sebuah hukuman. Rasanya sungguh memuakkan. Aku tak bisa melakukan apa-apa. Hanya ada bulir-bulir air mata.

Aku sudah melewati usia seperempat abad. Ingatkah kau tentang percakapan-percakapan kecil kita setiap malam saat aku masih belasan tahun? Kau satu-satunya panutanku. Kau yang selalu memompakan semangatmu padaku. Kau selalu menyuntikkan ribuan kubik impian di otakku. Kau selalu bilang, aku harus menjadi perencana yang ulung. Katamu, seorang perencana yang ulung akan selalu bisa memperoleh hasil yang spektakuler.

Aku hampir tak pernah merasakan bagaimana sakitnya mengalami sebuah kegagalan. Kau selalu ada mendukungku. Tak pernah kau meninggalkanku tenggelam dalam kegagalanku. Kehadiranmu selalu membuatku percaya, aku bisa meraih mimpi yang lain. Aku buta dengan rasa sakit hati. Sosokmu selalu membuatku yakin, sesakit apapun hatiku, kau pasti selalu mempunyai obat yang manjur untuk menyembuhkan luka hatiku.

Lihatlah gadis kecilmu ini. Aku akan menuju 26 tahunku di tahun ini. Perlahan aku sudah bisa meraih satu per satu mimpiku. Mimpi kita. Mimpi yang hampir selalu kita diskusikan. Aku sudah berada di titik ini. Aku memang belum sepenuhnya mencintai duniaku yang sekarang. Tapi dari aku masih merangkak, aku selalu melihatmu dikerubungi murid-murid kecilmu. Aku selalu melihatmu mendidik mereka dengan caramu. Kecintaanmu pada dunia pendidikan, ternyata juga membuatku terjatuh di dunia yang sama denganmu. Aku ingin menceritakan banyak hal tentang duniaku sekarang padamu. Aku butuh celotehmu tentang apa itu mendidik, apa itu mengajar, apa itu totalitas, apa itu mengabdi dengan sepenuh hati. Aku butuh sosokmu. Aku butuh kehadiranmu pada duniaku.

Tengoklah sejenak. Menolehlah ke arahku. Dan lihatlah aku sekarang. Aku tumbuh menjadi gadis seperti yang kau harapkan. Aku bisa hidup mandiri. Aku berada ribuan kilometer jauhnya darimu. Aku di sini untuk mimpimu. Mimpimu melihatku menjadi seorang abdi negara. Aku melakukannya untukmu, tidakkah kau tertarik untuk sejenak memalingkan wajahmu ke arahku? Kau selalu mengajarkanku untuk berdiri tegak dengan kakiku sendiri. Mengerjakan semua dengan tanganku sendiri. Merencanakan semua mimpiku satu per satu untuk aku raih. Kau selalu mengajarkanku untuk tak pernah letih berjuang. Kau mengajarkanku tegas pada diriku sendiri dan pada hidupku. Lihatlah. Aku menjadi seperti sekarang karena sosokmu.

Mungkin kau juga sudah mendengar beberapa celotehan tentangku. Iya, dia yang aku percaya bisa menjagaku, sudah pergi meninggalkanku. Tepat di beberapa belas hari sebelum kau berjabat tangan dengannya di depan penghulu dan para saksi. Dia pergi membawa sekeping mimpi yang sudah tersusun. Dia pergi membawa sejengkal harap yang sudah aku letakkan di bahunya. Dia pergi tanpa kata. Meninggalkanku tenggelam dalam kubangan air mata. Kau tahu apa yang ada di benakku saat ini? Andai kau masih berdiri tegak di sampingku, aku yakin, kau tak segan-segan akan memenggal kepalanya atau bahkan menguburnya hidup-hidup. Aku tahu kau pasti akan melakukan itu karena aku selalu yakin, kau tidak akan pernah rela berlianmu yang sudah kau jaga dari masih di dalam cangkang dibuang dan diinjak-injak begitu saja. Tapi akhirnya aku hanya berandai-andai, karena nyatanya sekarang kau tak ada di sisiku. Kau tenggelam bersama duniamu yang baru. Sama sepertinya. Kau meninggalkanku. Meninggalkan kami bertiga.

Kemarilah sejenak. Peluk aku sampai aku mengantuk dan ingin tidur. Nyanyikan aku gending-gending jawa seperti yang selalu kau lakukan dua puluh tahun lalu. Marahlah padaku seperti saat aku tak mau makan sayur. Mengocehlah padaku seperti saat aku pulang terlambat karena asyik bermain. Bawakan aku sekotak es krim meski sudah mencair. Tataplah mataku seperti saat aku merasakan kegugupan mengikuti lomba. Tersenyumlahlah padaku seperti saat kau melihat hasil akademikku. Siramilah aku dengan semua kata-kata penguatmu. Hujani aku dengan cintamu. Puaskanlah aku dengan perhatian-perhatianmu.

Aku tak sekuat yang orang lihat. Aku rapuh. Tangisku selalu pecah tiap kali aku mengingatmu. Dadaku selalu berdesir ketika melihat gadis lain bercengkarama dengan sosok yang sama sepertimu. Hatiku terasa nyeri setiap kali membayangkan kau mengusap rambutku. Inginku menyumbat telingaku karena setiap kali aku seperti mendengar gaungan suaramu. Tak rindukah kau mengomeliku? Tak rindukah kau menelponku hampir setiap jam? Tak rindukah kau menanyakan setiap detail aktifitasku? Tak rindukah kau memanjakan gadismu ini? Sudah hampir dua tahun, masih belum inginkah kamu kembali pada kami?

Sedewasa apapun aku nanti, aku masih tetap gadis kecilmu. Aku selalu membutuhkan sosokmu. Putra-putri kecilku nanti pasti juga ingin mengenal sosokmu. Pulanglah. Aku merindukanmu, bapak..


Jumat, 19 Februari 2016

Hai kamu!


Malam ini aku ingin menulis lagi tentangmu. Tentang kita. Tunggu. Jangan dulu protes. Aku menulis ini bukan karena aku merindukanmu. Bukankah sudah pernah aku tulis kalau rinduku sudah hilang tak berjejak? Merindukanmu saja aku sudah lupa rasanya. Apalagi mengharapkanmu kembali. Itu sudah tak ada lagi dalam kamus hidupku. Jadi jangan kau pikir, dengan masih menulis tentangmu, itu artinya aku masih menyimpan secercah asa untukmu. Sudah tak ada lagi.

Kau memang masih menjadi yang utama. Topik utama saat aku bercengkerama dengan hatiku. Namamu masih jadi salah satu nama yang selalu aku sebut saat aku menengadahkan tanganku padaNya. Kamu masih menjadi sosok utama yang mendominasi pikiranku. Tokoh utama yang merasuki jiwaku. Kau juga masih menjadi sosok yang spesial untukku. Mungkin tak ada lagi sosok spesial lain yang bisa menggantikan posisimu. Jangan dulu berbesar hati. Apalagi berbesar kepala saat kau membaca rangkaian kata dalam kalimat yang aku tulis tentangmu ini. Kau memang spesial. Tapi bukan sebagai kekasih. Apalagi sebagai pendamping hidup. Kau adalah teman tumbuh di masa laluku. Kau spesial karena kau turut andil dalam membentukku menjadi wanita yang tangguh. Peranmu dalam hal ini sangat banyak. Aku rasa, hanya darimu aku mendapatkan kedewasaan, kemandirian, keikhlasan, kelegowoan, ketangguhan, kemarahan, kesedihan, kebahagiaan, kekuatan, dalam satu waktu yang sama. Tak ada teman masa laluku yang memberikanku sepaket tawa dan tangis seperti dirimu. Itulah mengapa kau ku sebut spesial.

Oh iya, aku sampai lupa menanyakan kabarmu. Apa kabar kamu? Apa kau masih suka makan nasi putih dengan porsi yang banyak? Sudah tak pernah lagi kah kau makan nasi merah seperti yang biasa aku buatkan untukmu? Makan siangmu pasti berantakan karena tak ada lagi bekal makan seperti biasa. Masih jugakah kau malas makan sayur? Ahhh..aku rasa perutmu itu semakin buncit saja. Karena karbohidrat dan lemak yang selalu kau konsumsi berlebihan.

Bagaimana pekerjaanmu? Apakah tas ranselmu masih selalu penuh dan berat? Adakah kota yang kamu kunjungi selama beberapa minggu terakhir? Masihkah malammu kau lewatkan dengan duduk di depan meja kerja kantormu dengan setumpuk berkas-berkas itu? Siapa yang sekarang suka kau ajak berkeluh kesah tentang pekerjaanmu yang tak pernah ada habisnya itu? Apakah kau juga masih terbiasa mengendarai motormu tanpa menggunakan jaket?

Teras, ruang tamu, ruang tengah, kamar-kamar, dapur, kamar mandi, tempat cuci baju, pasti kau jarang menyapu dan membersihkan debu-debu yang menempel. Tirai dan sprei di kamarmu pasti juga belum kamu ganti. Bukankah aku selalu bilang bahwa paling tidak seminggu sekali kamu harus peduli sama keadaan rumah kontrakanmu. Sabtu pagimu masih sibuk dengan segunung cucian kah? Masih adakah bajumu yang kelunturan? Berkali-kali sudah aku ingatkan, pisahkan seragam kantor dengan baju-baju harianmu. Repot ya mengurus semua cucian dan jemuranmu? Biasanya kan Sabtu pagi kau selalu menjemputku di messku, membawaku ke rumah kontrakanmu, lalu aku berkutat dengan dapur, membuatkanmu sarapan sebelum aku bertempur dengan cucian yang selalu bergunung-gunung setiap minggu, sedangkan kamu tinggal menunggu sarapan dengan menonton televisi di kamarmu.

Apa saja isi kulkasmu sekarang? Pasti makanan instan semua. Kapan kau mau beli sayur untuk asupan seratmu? Ingatkah sama hasil laboratorium saat medical check up terakhirmu? Kolesterolmu meningkat. Sudah selalu aku cerewetin kan untuk mengurangi makanan yang berminyak-minyak? Asam uratmu juga meningkat. Hobimu sepertinya juga masih belum berubah. Sering-sering saja konsumsi bebek goreng penuh lemak dan purin itu kalau kau mau sendi-sendimu bengkak karena hiperurisemia. Ahh..kau terlalu menganggap remeh semua itu kan? Lihatlah berat badanmu yang pasti semakin hari semakin bertambah. Kapan kau benar-benar mau menyadari kalau pola makanmu sudah terlalu berantakan?

Rindukah kau dengan senja yang selalu kita nikmati keindahannya saat weekend? Masih seringkah kulitmu yang sudah mulai menggelap itu bermandikan sinar matahari pantai? Berlarian dengan siapa kau jika ke pantai yang sepi itu? Apakah kau sudah bisa snorkling dengan lebih baik lagi? Ataukah kau sudah mulai berani mencoba diving? Siapa yang kau ajak narsis dengan tongsis yang bisa juga berfungsi sebagai tripod yang ditancapkan ke pasir? Adakah yang menemanimu tertawa sambil menikmati suara deburan ombak kecil di pantai?

Minggu pagimu masih dihabiskan dengan futsal? Pulang futsal kau pasti menghabiskan sepiring nasi kuning dengan bermacam-macam lauknya atau sepiring nasi putih dengan opor ayam yang tentunya lagi-lagi tanpa sayur. Ataukah ada yang menyambutmu di rumah kontrakanmu dengan masakan lengkap bahkan beberapa potong buah? Biasakan sepulang futsal itu untuk mengambil baju-baju yang ada di jemuran. Jangan asal dilempar ke atas kasur. Lipatlah yang rapi meski tidak langsung kau setrika. Ataukah baju-baju itu berhari-hari masih kau biarkan tetap di jemuran? Kebiasaanmu masih belum berubah juga kah?

Ohh iya, seharusnya tak perlu aku bertanya sedetail ini atau mengkhawatirkanmu. Bukankah kau membatalkan acara pernikahan kita yang tinggal dua minggu lagi itu karena ada sosoknya? Sosok wanita yang kau panggil dengan sebutan “ibu negara”. Yang kau posting di instagrammu saat dia memandumu membuat sepiring spaghetti, beberapa hari setelah kau batalkan acara sakral yang sudah kita siapkan berdua. Ahh aku benar-benar lupa. Sekarang sudah ada sosoknya. Bagaimana “ibu negara”mu?

Apakah dia bisa melakukan tugas negaranya dengan baik? Masakannya seenak masakanku kah? Pengetahuannya tentang bahan makanan sebagus aku kah? Bisakah dia memilih dan mengolah makanan yang rendah koleterol dan rendah purin untukkmu yang sedang mengalami hiperkolesterol dan hiperurisemia? Kalaupun dia bisa, apakah dia tahu jenis-jenis makanan yang boleh atau tidak boleh untukmu dari internet atau memang dia sudah tahu dari dulu?

Ehh tapi dia bukan ahli gizi sepertiku kan? Jadi aku rasa, dia pasti tak tahu banyak bagaimana merawat kolesterol dan asam urat di tubuhmu agak tak menggila. Apakah dia bisa menyelesaikan pekerjaan rumah seperti yang selalu aku lakukan dulu? Baikkah perlakuannya ke kamu? Komplainkah dia setelah tahu sebagian gajimu selalu lenyap hampir 95% setiap bulannya? Sudah merengekkah dia meminta televisi yang lebih besar agar kalian bisa punya bioskop di rumah? Terima kah dia dengan kulkas satu pintumu yang sudah mulai usang itu? Ataukah kalian sudah membicarakan mahar pernikahan sepaket gadget bermerk buah yang setengahnya sepertinya sudah dimakan tikus itu? Upss..harusnya aku tak perlu mengetahui tentang bagaimana hubungan kalian berdua sekarang.

Tenang saja, aku tak akan menganggu kebahagiaan kalian berdua. Meskipun aku tahu siapa dia, aku tak akan datang ke hadapannya untuk mengoyak tubuhnya atau malah mencincang dagingnya untuk aku buat bakso. Aku juga tak akan menyiram wajahmu dengan air keras. Atau meracuni minumanmu dengan sianida atau sejenisnya. Tenang saja. Aku tak akan bertindak serendah itu meski kau sudah merendahkanku dan keluarga besarku.

Aku menyapamu kali ini bukan karena aku merindukanmu. Sekali lagi, aku ulang, bukan karena aku merindukanmu. Aku hanya ingin menyampaikan, mimpiku yang pernah aku sampaikan padamu dan pernah kita susun berdua, sudah mulai aku dapatkan satu per satu, dengan kerja keras dan usahaku sendiri. Kali ini aku menuntut diriku sendiri untuk meraih semuanya, satu per satu. Tenang saja. Tak akan ada tuntutan atau menuntut kamu memenuhi semua mimpi kita seperti yang kamu koarkan di orang-orang sekitarmu sebagai alasanmu untuk menginjakku. Aku mulai mendapatkan titik terang untuk meraih semuanya sendiri, tanpa kamu.

Kamu bangun saja negaramu bersama ibu negaramu itu. Konsentrasilah membangun setiap detail negaramu. Berhati-hati jangan sampai kau membawanya berjalan dan tersandung batu karang.  Batu karang yang tumbuh dari kerikil-kerikil yang sempat kau taburkan pada jalan hidupku dan keluargaku saat ini. Hiduplah dengan baik bersamanya. Berilah dia penjelasan mengapa 95% gajimu terpotong secara otomatis setiap bulannya sampai delapan tahun ke depan. Tawarkan dia untuk hidup tanpa perencanaan masa depan yang matang. Siapa tahu saja dia sejalan dengan yang kamu pikirkan untuk berkenan hidup let it flow tanpa menyusun rencana dan strategi agar bisa memiliki sebuah istana mungil, memiliki dapur yang cantik dengan peralatan-peralatan tempur yang ciamik, memiliki perabotan rumah tangga yang lebih baik, memiliki tabungan pendidikan untuk anak-anak, memiliki tabungan pensiun, memiliki tabungan untuk kesehatan, dan memiliki kehidupan masa depan yang lebih layak.

Hiduplah dengan cara pikirmu itu dan hentikan omong kosongmu tentang tuntutan, menuntut dan dituntut yang mencatut namaku itu. Karena bagiku, hidup itu berawal dari mimpi. Mimpi direalisasikan dengan perencanaan yang matang lalu meraih semuanya satu per satu. Berbahagialah dengan ibu negaramu. Berhati-hatilah agar negaramu nanti tak terguncang gempa atau malah habis tak bersisa di gulung tsunami. Mencobalah untuk berpikir dan menyadari, bahwa DIA memunculkan gempa atau tsunami itu karena sebuah sebab. Karena bisa saja, sakit hatiku dan keluarga besarku menjadi salah satu penyebab gempa dan tsunami menghampiri negara antah berantah yang sedang kau bangun bersama ibu negaramu itu.

Salam dari aku,
Gadis yang masih merangkak untuk melupakanmu tapi sudah berlari jauh dari merindukanmu..

Masih Tentang Kamu



Sejak aku memutuskan untuk menutup cerita masa laluku dengan sesosok laki-laki berhidung pinokio dan berambut pirang itu, aku membuat kesepakatan dengan diriku sendiri untuk menikmati hidup sendiri terlebih dahulu, memanjakan diriku, dan memberi kesempatan hatiku untuk pulih. Tak ku kira bahwa sebuah sapa bisa merubah apa yang sudah aku sepakati dengan diriku. Sebuah hashtag membuatmu bisa menemukan sebuah akun media sosialku dan sapamu membuatku berpikir ulang, bahwa tak ada yang salah jika aku mencoba membuka hatiku.

Sebelum mengenalmu, bertahun-tahun aku menjalani masa laluku dengan sosok laki-laki yang menggenggam rosario. Aku selalu merindukan sosok laki-laki yang bisa aku dengar suara merdunya saat melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an. Kehadiranmu sejak saat itu membuatku seakan tak punya alasan untuk tidak memberimu kesempatan. Aku masih mengingat setiap detail tawaranmu agar kau tetap bisa menemuiku setiap hari. Kegigihanmu membuatku merasa harus memberimu sebuah kesempatan. Penerimaanmu padaku termasuk dengan segala kekurangan keluargaku membuatku merasa harus memberimu kesempatan menempati sebagian hatiku. Aku berharap bahwa setidaknya kamu bisa mengobati kerinduanku akan hadirnya sosok laki-laki yang bisa melindungiku dan dua perempuan terhebat di sisiku.

Tak pernah aku berpikir siapa kamu dan dari keluarga mana kamu berasal. Bagiku, cukup dengan penerimaanmu dan keluargamu kepadaku dan dua wanita terhebat di sisiku itu adalah sebuah hal yang tak ternilai. Aku bahagia menjadi sosok yang selalu kamu elu-elukan di hadapan semua rekanmu. Kamu tahu? Awalnya aku sangat meragukan sosokmu, tapi seiring dengan berjalannya waktu dan perlakuan manismu padaku, ragu itu sirna dengan sendirinya.


Kau ingat? Saat kita makan malam bersama, sebuah kalimat meluncur dengan sempurna dari bibirmu, “aku ingin kau menjadi ibu dari anak-anakku, aku ingin kau menjadi istriku. Ijinkan aku datang ke rumah untuk melamarmu”. Kau mencoba meyakinkanku sepenuh hati hingga aku mengiyakan niatmu. Kamu tahu rasanya seorang wanita yang ada di posisi itu? Rasanya benar-benar di atas awan. Melayang karena bahagia.


Tak ada hari yang aku lewati tanpamu. Tak ada waktu makan yang aku lewatkan tanpamu. Tak ada cerita tentang keseharianku yang tak berakhir di telingamu. Tak ada tawamu yang aku lewatkan. Kebersamaan kita, pertemuan intensif kita, membuat kita bisa saling mempelajari karakter kita masing-masing. Impian-impian masa depan sudah kita susun berdua. Mulai dari bagaimana kita harus menabung untuk memiliki sebuah istana mungil tempat anak-anak kita berlarian nantinya. Tentang bagaimana kita harus menyisihkan rupiah demi memberikan pendidikan yang layak untuk anak-anak kita. Tentang bagaimana kita harus berhemat agar kita bisa mengisi istana mungil kita nanti dengan barang-barang yang tidak mewah tapi bermanfaat. Tentang rencanaku melanjutkan sekolah ke jenjang magister yang kau sambut dengan suka cita, bahkan kau bilang akan meminta cuti di luar tanggungan negara agar kita tetap bisa bersama di satu kota yang sama. Tentang bagaimana kita membagi penghasilan kita berdua untuk detail kebutuhan kita nantinya dan kau tentunya pasti masih sangat ingat saat kau menangis tersedu karena masalah yang menghampirimu terkait urusan finansial yang harus kau pertanggungjawabkan di kantormu padahal kau tak pernah menggunakan dana itu untuk kebutuhan pribadimu. Aku masih ingat dengan jelas saat kau bilang jika aku ingin mundur dari rencana pernikahan kita, kau mempersilahkan aku mundur. Tapi nyatanya, tidak kan? Aku menerimamu dengan segala kurang lebihmu. Aku menerimamu untuk memulai hidup dari awal. Dari merangkak, berjalan hingga berlari untuk rumah tangga kita nantinya. Pelukanmu malam itu membuatku merasa, iya, kamu sosok yang aku cari.


Jakarta. Tempatmu menetap selama 14 hari dengan temanmu yang berasal dari seluruh pelosok Indonesia membuatmu berubah pikiran. Saat kau menyampaikan niatmu untuk membatalkan acara sakral kita adalah pukulan telak bagiku dan dua wanita terhebatku. Kesalahan-kesalahan yang kau lemparkan padaku membuatku bertanya-tanya ada apakah ini. Beberapa hari setelah itu, kau datang kembali untuk meminta maaf dan memintaku menerimamu kembali dengan pengakuan yang cukup membuatku ternganga. Rupanya ada dia yang menjadi penyebabmu meragu. Bagiku saat itu, ini adalah cobaan bagi kita. Aku tak memperpanjang masalah. Aku kembali menerimamu dan pelukanmu malam itu dengan sedu sedan tangis maafmu membuatku tak lagi meragukan kesungguhanmu.


Dua hari setelah kau datang dengan pengakuan mengejutkanmu itu, kembali lagi kau mengatakan bahwa kau meragu dan ingin membatalkan semua rencana kita. Aku tak pernah tahu apa yang ada di benakmu saat itu. Aku terpukul. Kau mengakhiri semua begitu saja setelah aku memaafkanmu begitu saja. Tak lama setelah itu kau menghilang, tanpa kata, tanpa penjelasan apapun padaku maupun ibuku. Kau tak pernah tau bagaimana persiapan pernikahan yang tinggal beberapa belas hari lagi sudah sangat detail. Kau pergi begitu saja. Orangtuamu pun tak bisa menjelaskan apa-apa pada kami. Lalu salahkah apabila keluargaku masih menunggu penjelasan dari mulutmu? Salahkah apabila kami meminta kau datang menjelaskan semua? Yang aku dengar, yang kami dengar, kicaumu pada orang-orang sekitarmu cukup membuatku tahu siapa kamu yang sebenarnya.  Rentetan kesalahanku yang kau beberkan pada mereka adalah sebuah wujud dari kepengecutanmu. Semua yang sudah kita siapkan berdua kau bilang adalah sebuah tuntutan bagimu. Lupakah kamu tentang semua percakapan kita tentang masa depan? Lupakah kamu bahwa aku bersedia memberikan rupiahku untuk kau gunakan demi rumah tangga kita? Tak usah lah kau meracau tentang aku. Yang tahu bagaimana kita dan sejauh apa rencana masa depan hanya kita. Jadi berhentilah berkicau. Dengan kau berkicau dan meracau tentang aku, itu semakin membuktikan kamu laki-laki seperti apa. Bukankah begitu?


Sekarang entah kau sedang dalam dekapnya atau sedang di dekap sepi, satu kata yang ingin aku sampaikan, nikmatilah. Aku tahu, sama sekali tak ada sesal di hatimu. Aku tahu, kau menganggap ini semua adalah hal yang biasa. Meninggalkan anak gadis orang yang sudah kau pinang dan membatalkan acara sakral yang sudah tinggal beberapa belas hari lagi adalah hal yang wajar bagimu. Karena lihatlah, kau bahkan tak berniat datang menyampaikan pembatalanmu langsung pada ibuku. Kau kabur dari kenyataan. Kau blokir semua sosial mediaku. Kau hilangkan jejakku dalam hidupmu. Sebegitu laki-laki kah kamu dengan melakukan cara itu? Aku rasa tidak.

Berjuta alasanmu meninggalkan cerita kita dengan mengumbar kesalahan-kesalahanku yang sebenarnya tak ada cukup membuatku tersenyum simpul. Tak ada lagi alasanku untuk membanggakanmu. Tak ada lagi alasanku untuk berkata pada dunia bahwa kamu yang terbaik. Tak ada lagi alasanku untuk menganggap bahwa kau seorang superman bagiku. Ternyata kamu tak lebih dari seorang laki-laki dengan hiperkolesterol dan hiperurisemia yang hanya bisa lempar batu sembunyi tangan. Meracau hingga kacau. Tanpa kau sadar kau hanya menjatuhkan dirimu sendiri. Apapun alasanmu meninggalkan cerita kita, hanya waktu yang akan menjadi jawaban dari semua kicaumu itu. Berhentilah meracau tuan. Berhentilah mengumbar aibmu sendiri. Berhentilah merasa benar. Karena seberapa hebatnya kau membela dirimu, ada saatnya kau akan menangis tersedu menyadari luka yang telah kau buat padaku dan seluruh keluarga besarku. Siapapun dia, belajarlah untuk lebih menjadi laki-laki baginya. Katakan padanya, aku tidak akan memarahinya atau datang menemuinya untuk mencabik-cabik kulitnya. Aku justru berterima kasih, karena kehadirannya di beberapa belas hari menjelang pernikahan kita membuatku tahu sosok seperti apa kamu sebenarnya.

Julianto Saputro,.
Belajar lagilah menjadi laki-laki sejati menjelang 28 tahunmu.
Karena meminang anak gadis orang lalu membatalkan tanpa sepatah kata penjelasan menjelang beberapa belas hari pernikahan tidak selucu itu dan tidak menjadikanmu benar-benar disebut laki-laki.