Sabtu, 18 Februari 2017

Bukan aku yang menjauh, tapi kau yang mengajariku acuh!

Jika aku kecewa, jangan salahkan apa yang bergemuruh di dada. Jangan salahkan rasa yang akhirnya tergilas oleh nestapa. Bukan aku tak ingin mendekat, tapi karena memang tak ada lagi alasan untukku menetap. Kalau ditanya tentang rindu, aku tak bisa membohongi kalbu. Aku juga merasakan rindu. Hingga menjadi sendu. Tenggelam dalam sedu sedan tangis yang tak pernah ku tahu kapan bisa habis.

Entah apa ini hanya pembenaranku semata. Ataukah memang ini kenyataan yang ada. Aku rasa, tak ada yang salah dengan kecewaku. Begitu juga dengan amarahku. Ataupun dengan benciku. Anak gadis mana yang hatinya tak perih jika menerima kenyataan bahwa orang yang selama ini dipujanya ternyata menyajikan ketidaksetiaan? Anak gadis mana yang tak meraung jika orang yang dianggap sebagai malaikat pelindungnya ternyata membuatnya harus terundung dalam duka?

Aku rasa, tak ada satupun perempuan yang ingin terjebak dalam ruang pengkhianatan. Apalagi jika pengkhianatan itu dilakukan oleh orang yang dia anggap sebagai satu-satunya orang yang tak akan pernah melakukannya. Aku katakan sekali lagi, tak mudah menjadi aku. Tak mudah bagiku untuk tetap berdiri dan mengatakan pada dunia bahwa aku baik-baik saja. Bahwa aku tak merasa resah menghadapi gelisah dua orang yang sekarang ada di bawah tanggungjawabku. Aku takut. Aku takut tak bisa membahagiakan mereka. Aku takut tak bisa membuat hidup mereka menjadi nyaman dan aman.

Apa kau tahu segala kekalutan yang aku rasakan sejak kau pergi meninggalkan kami? Apa kau tak menyadari bahwa aku takut punggungku tak kuat untuk menopang mereka?  Apa kau tak merasa bahwa kau telah melalaikan tanggungjawabmu pada kami dan memaksaku untuk menjadi nahkoda? Apa kau lupa bahwa aku masih tak bisa menggunakan kompas yang kau berikan dengan baik? Apa kau memang tak tahu atau tak mau tahu lagi tentang apa yang terjadi pada kami setelah kau pergi?

Ah entahlah. Apa lagi yang harus ku tulis untuk menggambarkan apa yang sedang aku rasakan. Aku seperti sudah kehabisan kata-kata. Jangankan untuk mengungkapkan padamu sebesar apa luka menganga yang kau buat ini, untuk menuliskannya saja aku sudah tak mampu lagi.

Jadi biarkan saja aku dengan lukaku. Tak usah kau coba untuk mengobati perihku. Begitu pun aku. Aku juga akan membiarkanmu menjalani hidup yang kau pilih sendiri tanpa campur tanganku. Biar saja kita sama-sama menyadari bahwa aku sudah tak harus lagi kau dampingi. Dan aku cukup mengerti bahwa aku juga sudah tak lagi memiliki arti.

Kembalilah jika masih ingin kembali. Pergilah jika membersamaiku memang membuatmu lelah. Dengan apa yang selama ini kau ajarkan padaku, aku akan mencoba memampukan diriku. Menjadi punggung yang kokoh agar mereka bisa bersandar padaku. Menjadi kaki yang kuat untuk menopang berat tubuh mereka. Dan menjadi tangan yang tangguh untuk tak melepas genggaman mereka.

Tak usah kau berpikir bahwa aku menjauh. Karena tanpa kau sadari, kau sendirilah yang mengajarkanku untuk acuh. Biarkan saja segalanya menjadi riuh. Karena pada saatnya nanti aku tak akan lagi merasa rapuh. Ada yang akan aku rengkuh. Ada yang akan menenangkan gemuruh.


Aku akan tetap menjadi aku. Kau juga akan tetap menjadi engkau. Dan satu hal yang sama-sama tak bisa kita pungkiri, dalam tubuh kita mengalir darah yang sama.

Selasa, 14 Februari 2017

Apa dengan merebut membuatmu tak bisa merasakan bahagia yang akut?


Hidup memang harus bahagia. Bahagia adalah tujuan dari hidup. Tapi bukan hidup bahagia di atas luka orang lain. Bukan tertawa merasa menang ketika kita memiliki dari hasil merebut. Apa susahnya sih diam tanpa perlu berkoar seakan kau yang paling tersakiti? Seakan kau yang paling benar padahal nyatanya kau sudah melakukan tindakan tak benar?

Katanya, perempuan dimanapun juga, apapun profesinya, bagaimanapun latar belakangnya, dia tetap memiliki jiwa perempuan. Perempuan yang selalu identik dengan kelembutan, tutur kata yang menyejukkan hati, sikap yang mendamaikan jiwa dan hati yang penuh dengan kehangatan cinta. Sekasar-kasarnya perempuan, dia ya tetap perempuan. Lebih menggunakan perasaan dibandingkan logikanya. Tapi setelah menghadapi kenyataan pahit yang lalu ditambah dengan cerita-cerita yang begini ini, ternyata banyak juga perempuan yang tak layak disebut perempuan. Entah, apa hatinya udah dibuat oseng-oseng dan otaknya udah digoreng kering.

Tak ada yang pernah bisa menjamin sedih dan bahagia akan bertahan selamanya. Tak ada yang bisa menjamin, orang yang sekarang jatuh cinta setengah mati bahkan mungkin rela banting tulang sekaligus banting harga siang malam hanya untukmu, keesokan harinya akan jadi orang pertama yang mencampakkanmu seperti yang pernah dia lakukan pada orang-orang sebelummu. Ada yang bisa menjamin itu? Tidak ada! Tak ada yang abadi di dunia ini. Ini hanya kehidupan di dunia. Segalanya bisa berubah.

Tak sadarkah kau apa yang kau miliki sekarang adalah hasil dari merampas bahagia orang lain? Tak ingatkah kau bahwa laki-laki yang sekarang kau panggil suami itu adalah tunangan perempuan yang sudah kau hancurkan harga dirinya? Hey! Kau sudah melakukan kesalahan. Kau telah membuka pintu lebar-lebar untuk sang karma yang sedang menujumu. Dan masih sempat kau mengoyak kembali hati yang mulai pulih ini? Hati yang pernah kau injak hingga terasa mati. Jiwa yang pernah kau buat kosong. Mata yang pernah kau redupkan cahayanya. Iya, itu adalah gambaran diriku ketika kau dengan sengaja datang dan merampas apa yang aku miliki.

Bertahun-tahun aku mendampingi dia. Dari sejak dia menggunakan kakinya untuk berjalan menapaki gemerlap lampu kotaku. Hingga dia mulai bisa mengayuh sepeda sambil memboncengku di belakangnya lalu memintaku berpegang erat pada pinggangnya. Sampai pada saat dia telah bisa mengendarai roda duanya dan mengajakku menikmati panorama kotaku. Tak pernahkah dia memberi tahumu siapa yang tak pernah letih menyokongnya hingga dia bisa seperti sekarang ini? Hingga dia bisa membuatmu duduk manis di sampingnya yang sedang mengemudikan kendaraan beratap itu? Lalu dengan pongahnya kau memposting foto kebersamaan kalian dengan caption,"menikmati weekend bersama suami. Memang yang halal itu lebih menyenangkan". Apa masih layak kau disebut manusia dengan tingkah polah yang tak berakal seperti itu?

Jika iya itu takdir. Jika iya apa yang kau lakukan padaku adalah yang terbaik untuk masa depanku, tak apa. Aku menerima semua sebagai pelajaran terhebat dalam hidupku. Bekal yang cukup untuk menjadi orangtua yang benar. Agar bisa mendidik keturunanku untuk selalu memanusiakan manusia dan menggunakan hatinya jika otaknya sudah memberikan sinyal untuk melakukan hal-hal yang bisa menyakiti hati orang lain.

Aku tahu, tak ada satu orangpun yang sempurna. Aku juga paham, kau tak akan pernah ada dalam kisah yang sedang aku jalani kala itu jika lelaki itu tak membukakan pintu hatinya untukmu. Aku bisa mengerti, jika memang itu adalah jalan hidup kalian. Harus bertemu dengan perantara aku. Tapi tak bisakah kau urus saja bahagiamu tanpa perlu terusik dengan bahagia yang sedang aku bangun? Tak bisakah berhenti memperbincangkan aku dengan kehidupanku yang baru lalu membandingkan dengan kehidupanmu yang katanya bahagia dengan lelaki yang bahkan kau dapat dengan cara merampasnya dari aku? Sebegitu sulitkah kau untuk merasakan bahagia yang hakiki? Sebegitu sulitkah menikmati cinta yang kau bilang halal itu? Hingga kau masih harus meluangkan waktumu untuk menengok aku dan mencoba masuk ke dalam kehidupanku.

Hey! Jika aku mau, bisa saja aku bersikap lebih jahat dari apa yang sudah kau lakukan. Jika aku mau, aku bisa melakukan apa saja untuk membuatmu merasakan bagaimana pedihnya dicampakkan. Tapi aku tak serendah itu. Aku tak perlu mengacaukan hidup orang lain demi bahagiaku sendiri. Atau kau mau bilang, "Ah tidak mungkin aku dicampakkan. Ini kan suamiku. Dia sudah menghalalkanku. Dia sudah berjanji akan selalu bersamaku. Dia mencintaiku dengan sangat". Lupakah kau? Bahwa lelaki yang kau agung-agungkan itu pernah meninggalkan sebuah berlian demi emas berkarat? Dan bisa jadi, dia nanti akan meninggalkan emas berkarat demi sebuah kuningan yang disepuh dan sudah rapuh. Kau masih mau bilang tidak mungkin? Hahaha, kau lupa, tak ada yang tak mungkin jika DIA berkehendak. Kau masih memiliki iman kan? Dan lagipula, sudah banyak contohnya. Punya televisi kan? Pasti pernah dong lihat infotainment tentang rumah tangga yang awalnya romantis sampai bikin orang meringis tapi akhirnya bikin hati teriris? Yakin masih mau bilang bahagiamu bakal selamanya?

Jadi sudahlah. Kau bangun saja istanamu yang dibuat dari pondasi air mata dan sakit hatiku sekaligus keluarga besarku itu. Kau urus saja lelaki yang sudah kau sebut suami itu. Kau didik anakmu, berikan dia pendidikan yang bagus, agar kelak dia bisa jadi orang yang pintar dan berguna, bukan jadi orang ketiga.

Kita lihat saja, seberapa tangguh pondasi istanamu itu. Seberapa kuat komitmen yang dibangun setelah membuat sentimen orang lain. Jika kau merasa istanamu sudah terbangun dan berdiri megah sekaligus kokoh tak akan hancur, tapi bagiku itu tidak. Kemegahan istana yang sedang kau tinggali saat ini bukanlah akhir dari kisah kasih yang kau bangga-banggakan itu. Tapi ini adalah awal dari sebuah film yang nantinya akan menjadi sejarah dan pastinya akan aku ceritakan kelak pada keturunanku. Bahwa semegah apapun istana, bahwa sebahagia apapun rasa, bahwa sekuat apapun cinta, jika itu didapat dari cara yang tidak disukaiNya tentu tak akan pernah bisa abadi dan mendapat surgaNya.

Tak akan pernah ada tanaman yang bisa tumbuh jika kita tak menanam bibitnya. Dan kau. Dan kalian. Telah menanam bibit-bibit itu. Yang kelak, pasti bisa tumbuh subur dan akarnya menjalar kemana saja ia mau.

Sekarang, tak perlulah arogan. Karena mau sembunyi seperti apa juga, karma tidak akan salah tujuan.

Nb : Kalau setelah dijabarkan begini kau masih berulah, berarti emang isi kepalamu entah ketinggalan dimana.

Kupang, 13 Februari 2017
Yualeny Valensia
Based on true story of my unbiological sister 😉

Kamis, 05 Januari 2017

Di suatu Minggu yang tak lagi sendu

Cinta membawaku padanya. Sebuah rasa yang menjadikan kami memiliki asa. Tentang bersama dalam suka. Hingga duka menghinggapi dada. Gundah yang selalu dikalahkan indah. Meski ada sedih yang membuat pedih tapi angan selalu ada dalam genggaman. Dengannya aku tak pernah menyimpan tanya. Karena harap akan selalu terjawab. Hingga aku lupa rasanya sendu. Karena dia pembawa rindu.

Ratusan hingga ribuan hari telah dijalani. Ada banyak kisah yang membuat kasih semakin menjauhkan risih. Tertawa hingga tak menyadari bahwa kecewa bisa saja menghampiri. Mengingat sampai tak berpikir tentang melupakan. Hingga harapan telah menjadi buaian. Genggaman yang berujung melepaskan. Tak ada lagi yang bisa dilakukan selain menerima dengan penuh keikhlasan.

Membiarkan pergi yang sudah terlanjur di hati tak semudah mimpi. Apalagi ketika harus mengakui bahwa dia adalah inti yang tak lagi bisa dinanti. Melihatnya bercengkerama dengan Tuhan harusnya membuat diri semakin nyaman. Tapi nyatanya, hati semakin terperi. Dada bergemuruh riuh. Remuk redam karena lipatan tangan rapalan doanya dianggap berbeda dengan tengadah tanganku.


Aku dan dia hanya seorang pemeran. Yang bisa saja dihentikan perannya jika DIA tak mau lagi adanya kisah. Kami yang awalnya memaksa bersama akhirnya pun harus dipaksa tak lagi seirama. Menjadikan patah tanpa arah. Mencoba menyembunyikan air mata meski alirannya sudah semakin deras. Tak ada lagi yang bisa kami lakukan. Selain menerima segala ketetapanNya. Mengakrabi hati yang patah. Sambil bersiap membidai apa yang telah tercerai berai. Doa yang sama masih akan terucap. Hingga dia menemukan masa depan yang bisa diajaknya bersimpuh padaNya dengan cara yang sama. Dan nantinya, aku pun bisa demikian. Dibersamakan dengan sosok yang membaca doa makan yang sama. Karena pada akhirnya, manik-manik tasbihku tetap berbeda dengan manik-manik rosarionya.

Kamis, 01 September 2016

Kicau. Racau. Kacau


Malam yang dingin dengan ditemani sinar terang bulan purnama terasa begitu meneduhkan. Jarang sekali kota ini menjadi dingin. Segelas blackcurrant tea yang ada di hadapanku pun tak membantu menghangatkan diri. Tak banyak yang aku lakukan di malam seperti ini. Menikmati semilir angin dari jendela kamarku sambil dirangkul selimut adalah kegiatan rutinku setiap malam, seperti malam ini.

Sebuah notifikasi dari smartphoneku membuatku mencari dimana letak benda kecil itu. sebuah pesan dari salah seorang sahabat. Sebuah gambar dengan catatan kaki, “apa-apaan ini?”. Sedikit tersentak setelah mengetahui gambar apa yang dia kirim. Screenshot kicauan di sebuah sosial media. Cukup menggelikan ketika aku melihat siapa yang berkicau itu.

Ada hal menggelitik benakku setelah membaca kata demi kata yang ditulis si pengicau itu. Mungkin dia tak sadar bahwa dia sedang mengicaukan tentang dirinya sendiri. Mungkin juga dia sudah lupa, apa yang dia tertawakan di kicauannya itu adalah tindakannya sendiri. Mungkin pula dia lelah dengan kehidupannya yang tak menemui jalan bahagia. Dan mungkin saja serabut-serabut saraf di otaknya sudah tak lagi berkesinambungan.

Seorang laki-laki yang mengaku sudah dewasa ternyata tak lebih dari balita yang bahkan belum bisa calistung. Seorang laki-laki yang meracau di dunia maya tak ubahnya si princess yang sedang bercerita tengah liburan di Perancis. Seorang laki-laki yang katanya akan menjadi seorang bapak tapi nyatanya tindakannya tak lebih jantan dari seekor burung yang tengah terbang menerjang panasnya hari hanya untuk mengantarkan sebuah makanan untuk anak-anaknya yang sedang kelaparan di atas pohon. Sebutan apa yang sebenarnya bisa menggambarkan sosok laki-laki seperti itu?

Entahlah, palu sebesar apa yang bisa dibuat untuk memukul kepala bulatnya itu agar otaknya bisa kembali bekerja. Atau haruskah aku sediakan kaca sebesar layar bioskop agar dia bisa melihat seperti apa dirinya yang sebenarnya? Hey! Berhentilah merasa benar. Sudah cukup kau menjadi orator yang berkoar-koar tentang kebenaran menurut versimu itu. Percuma saja. Karena hal itu semakin menjadikanmu orator ulung. Dan satu hal lagi, segala remeh temeh tentang kicauanmu itu tak akan pernah lagi membuatku menangis tersedu menyesali kepergianmu. Yang ada, jemariku semakin lincah merangkai kata demi kata yang pada akhirnya dibaca ribuan bahkan ratus ribu orang di luar sana.
Sebelum kau berkicau lagi tentang sebuah provokasi, haruskah aku mengajarimu tentang sebuah etika? Etika yang sepertinya tak pernah kau pelajari bahkan di usiamu yang menuju kepala tiga. Etika sosial yang tak juga kau indahkan. Haruskah aku mengingatkanmu bahwa meninggalkan anak gadis orang tanpa kata di depan gerbang pernikahan itu adalah sebuah kepengecutan? Bukankah tindakan pergi tanpa sepatah kata apapun dengan persiapan pernikahan yang sudah 90% itu juga sebuah perbuatan yang tidak menyenangkan sekaligus pencemaran nama baik keluarga besar? Tak perlu lagi kan aku menuliskan dengan detail segala tindakan bodoh dan pengecutmu itu? Karena tentunya kau dan keluarga besarmu masih ingat bagaimana kalian telah mempermalukan dan mempermainkanku sekaligus keluarga besarku. Kecuali memang memori di otakmu sudah tertimbun bantalan lemak.

Tanpa aku harus berkicau bak seorang perempuan yang merintih karena sebuah pengkhianatan yang terjadi di gerbang pernikahannya, apa yang sedang kamu lakukan sekarang sudah menjawab segala tanya yang timbul. Kata demi kata yang kau tulis dalam kicauanmu menjadi sebuah kutipan-kutipan yang bisa melengkapi beberapa narasiku tentangmu setelah kau pergi sambil mendorongku hingga terjerembab. Tak sadarkah kau bahwa beberapa kicauanmu itu bisa membuat wanita yang sekarang memanggilmu dengan sebutan suami merasa akan salah telah menitipkan masa depannya padamu setelah dia dengan sadar memotong impianku di depan gerbang pernikahanku? Betapa pedih hatinya jika dia tahu bahwa ternyata kau masih asyik mengomentari kehidupan wanita yang telah dia curi senyum bahagianya?

Ataukah memang hidup kalian sekarang tak bisa tenang setelah mengoyak harga diriku dan keluarga besarku dengan permainan kotor kalian menjelang beberapa belas hari ikrar suciku? Dan apakah lelakimu ini tak cukup bahagia setelah memilih berpaling padamu di depan gerbang pernikahanku dengannya, hai wanita? Dan apakah wanitamu ini baru merasa bersalah telah merebut yang bukan milik di detik-detik pernikahan orang lain, hai lelaki? Kalau memang itu terjadi, entah kata apa yang bisa aku gambarkan untuk kalian. Nyatanya, aku memang belum berniat berdamai dengan tindakan yang telah kalian lakukan. Luka yang kalian ukir perlahan sudah mulai sembuh, jadi tak usahlah meracau lagi. Perlahan pula, seiring berjalannya waktu, aku juga pasti akan lupa dengan segala rasa nyeri di dada karena kalian meskipun tak pernah ada kata maaf yang terucap dari bibir kalian.

Sesekali, melihatlah ke bawah agar kau tak tersandung jika kau selalu berjalan sambil mendongak ke atas. Berhentilah merasa menjadi korban. Berhentilah merasa benar. Karena kebenaran yang sejati tak perlu dijabarkan. Ia akan menunjukkan dirinya sendiri tanpa diminta. Dan tak usahlah membuang waktumu untuk membela kebenaran. Karena kebenaran tak butuh dibela. Ia akan membela dirinya dengan caranya sendiri.

Jangan pernah kau lupa bahwa kau telah menjalani hidupmu dengan tak bersikap sebagai laki-laki sebelum kau menikmati hidupmu yang sekarang. Jangan lagi kau merendahkan dirimu sendiri dengan melakukan tindakan bodoh untuk kesekian kalinya. Tak bosankah kau menjadi lelaki yang hanya bisa berkicau tak ubahnya burung kenari? Tak inginkah kau belajar menjadi laki-laki sejati? Atau lupakah kau dengan tanggungjawab dan kewajibanmu sebagai lelaki? Lupakah kau bahwa menjadi kepala keluarga itu tak semudah mengicaukan hidupku yang telah kau kacaukan? Hidup tak cipirili seperti kata Dulce Maria, bung. Dan kantong ajaibnya Doraemon pun tak akan pernah ada di dunia nyata.

Pada saatnya nanti, kau akan risau ketika kicau yang kau tanam telah berbuah menjadi kacau. Jadi berhentilah berkicau. Berhentilah meracau. Karena tanpa kau sadari, hidup sekarangmu yang kau awali dengan mengacaukan hidupku akan semakin kacau dengan racauanmu yang tak berbobot itu.


Ini hanya saran dariku. Tapi kalau memang kau masih sanggup menerima tambahan akibat dari sekian sebab yang sudah membuatku terjerembab karenamu, silahkan saja lanjutkan kicauanmu. Karena di hidupku, kicauanmu hanya akan masuk dalam spam, bukan dalam inbox.

Kamis, 05 Mei 2016

Rindu.

“Kenapa kamu gak nikahin aku ajah dari dulu kalau masih ada kata rindu?”, ujarku memecah keheningan malam itu. “Bi, kita ketemu seperti ini rasanya gak enak banget di hatiku. Kamu tahu, Bi. Bahkan aku rasa kamu sangat tahu. Kamu masih satu-satunya orang yang tetap tinggal di hatiku sampai detik ini. Kamu juga tahu kalau aku gak akan pernah bisa melupakanmu. Ketemu sembunyi-sembunyi gini bikin kita kayak tawanan yang tinggal nunggu di pergokin sama petugas penjara tahu gak sih, Bi? Kamu juga pasti tahu kalau aku gak akan pernah bisa nolak diajakin ketemu kamu. Rindumu masih sama dengan rinduku, Bi. Rasa kita mungkin memang masih sama”, lanjutku.

Bian menghela nafas panjang. Dia menatapku dengan gusar. Keringat menetes dari keningnya. Satu tahun sudah kami tak pernah bertatap muka seperti ini. Jangankan untuk bertatap muka, mendengar suaranya saja sudah tak pernah. Dan malam ini adalah hari yang sebenarnya memang aku tunggu. Bertemu Bian meski dengan keadaan yang sangat jauh berbeda.

“Aku kangen kamu, Ay. Aku rasa gak perlu lagi aku menjelaskan kenapa aku gak nikahin kamu setelah ribuan hari aku lewatin sama kamu. Kamu juga gak perlu lagi nanyain hal yang sudah kamu tahu jawabannya. Luka kita sama, Ay. Aku minta maaf karena caraku mengakhiri semuanya mungkin membuatmu sangat terluka. Tapi saat itu gak ada hal lain yang bisa aku lakukan. Kamu tahu posisiku, Ay. Kita gak perlu lagi mengorek luka yang sedikit demi sedikit sudah kita coba obati ini kan, Ay?”, ujar Bian dengan mata berkaca-kaca.

“Aku tahu. Tapi kenapa harus ada kata rindu lagi setelah satu tahun semua berlalu, Bian? Kenapa kamu gak perjuangin aku dan kita menikah saja dulu?”, ucapku dengan nada yang mulai meninggi. “Kamu pikir enak ada di posisi yang harus meninggalkan? Kamu tahu, aku bukan tipe orang yang bisa meninggalkan orang lain tanpa beban. Kenapa? Kenapa? Kenapa? Kenapa sih kamu harus nanyain pertanyaan yang kamu sudah tahu jawabannya? Perlu aku ulangin lagi semua yang sudah kamu tahu? Aku gak bisa jadi imammu saat kamu sholat. Aku gak bisa sholat Ied sama kamu waktu hari raya. Aku gak bisa halal bagi kamu menurut agamamu. Aku membuat kamu dicibir sama keluarga besarmu. Kamu gak bisa bersamaku di altar dengan sepenuhnya. Kamu gak bisa misa sama aku. Kamu gak bisa ada kalau anak kita di baptis nantinya. Kamu sudah tahu semua alasan itu, Ay. Please jangan jadikan aku seperti tersangka. Aku sayang sama kamu, Ay. Aku mengambil keputusan itu karena aku tahu aku gak bisa jadi laki-laki yang baik menurut agamamu”, sambung Bian juga dengan nada meninggi.

“Bi, Biiii, Biiii, aaaa..aa..a..ku takut, Bi. Aku takut semua ini memperburuk suasana”, ujarku sambil mulai menangis. “Ay, kamu masih ingat kan? Aku pernah bilang sama kamu. Aku akan benar-benar melepaskanmu kalau sudah ada laki-laki yang seiman denganmu dan dia lebih baik segalanya dari aku. Dan saat kamu menceritakan tentang laki-laki itu, memberitahukan padaku betapa dia sangat memperlakukanmu, ibu dan adikmu dengan sangat baik, saat itu pulalah aku merasa bahwa memang saatnya aku harus melepaskanmu. Membiarkanmu berada di pelukan laki-laki yang bisa halal bagimu menurut agamamu. Kamu juga pasti ingat, selama kita bersama, gak pernah sekalipun kita bertengkar. Memang pada akhirnya saat kita pisah, kita memang bertengkar hebat. Tapi sekarang, kita kembalikan perdamaian itu meski dengan situasi berbeda. Kamu bawa kedamaian itu ke jalanmu, begitupun aku”, ujar Bian sambil memegang tanganku.

Aku menggenggam erat tangannya. Tangan yang masih sama seperti setahun lalu. Tangan yang ukurannya jauh lebih besar dari tanganku. Ketika aku menggenggam tangannya seperti ini, aku selalu merasakan kehangatan yang sudah tak lagi ku rasakan sejak satu tahun lalu. Tapi kali ini situasi kami sudah berbeda. Sesosok laki-laki seiman yang aku ceritakan pada Bian telah meninggalkanku tepat di beberapa belas hari sebelum pernikahanku dengannya. Dan ketika menggenggam tangan Bian kali ini, ada yang berbeda. Di jari manisnya sudah melingkar sebuah benda berwarna kekuningan. Ketika jemariku menyentuhnya, aliran darahku seakan berhenti dan dadaku menjadi sangat sesak seperti kekurangan oksigen.

“Ay, aku pernah bilang kan? Dia itu seperti kamu. Bersamanya seperti bersamamu. Hidup dengannya seperti hidup denganmu. Bagiku, dia itu kamu, Ay. Awalnya aku selalu berpikir seperti itu. Tapi akhirnya aku sadar, tanpa dia sadari, aku hanya akan menyakiti dia jika menyamakannya denganmu. Aku juga akan lebih membuatmu sulit melepaskan kita jika aku selalu mengatakan bahwa dia itu sama dengan kamu. Aku juga akan selalu hidup terjebak dengan bayang-bayangmu padahal yang di hadapanku bukan kamu. Kamu tetap kamu, Ay. Bagaimanapun, sampai kapan pun juga, kamu punya tempat tersendiri di sini, tak akan ada yang bisa menggantikannya”, ujar Bian sambil meletakkan tanganku di dadanya.

Aku tak bisa berkata apapun. Saat-saat seperti ini aku hanya bisa merebahkan kepalaku di pundaknya. Pundak ini yang selalu menjadi tempatku berbagi lelah selama ribuan hari kebersamaan kami. Pundak ini pulalah yang selalu basah karena air mataku ketika aku tak bisa membendung tangis karena beratnya cobaan hidup yang aku alami. Genggaman tangan ini juga yang selalu menguatkanku saat aku terjatuh dan terhempas karena badai-badai kehidupan yang menghampiriku. Tapi tangan ini pula yang akhirnya melepaskanku dan menggenggam tangan yang lain saat memasuki rumah ibadahnya untuk menuju altarNya dan mengikat janji sehidup semati.

“Di balik semua yang kamu alami sekarang, semua masalahmu sejak dua tahun lalu yang belum ada penyelesaian ini dan kepergian laki-laki pengecut itu tepat di beberapa belas hari sebelum hari pernikahanmu, percayalah DIA sudah menyiapkan pelangi terindah untukmu. Aku tahu kamu wanita hebat. Tak ada kata menyerah ya, Ay. Ibu dan adikmu sangat membutuhkanmu. Mau jadi apa mereka kalau kamu menyerah. Ingat, hidupmu sekarang hanya untuk membahagiakan mereka. Jadi obati dengan perlahan rasa sakitmu sekarang. Lupakan laki-laki yang sudah menyia-nyiakanmu itu. Dia tak pernah tahu bahwa ada aku yang sangat terpukul ketika harus melepaskanmu untuk dia yang aku harapkan bisa menjadi imam yang baik untukmu dan anak-anakmu kelak. Aku selalu membawamu dalam setiap doaku, Ay. Kita akan menemukan bahagia dengan jalan kita masing-masing. Tak perlu kau tanyakan bagaimana rasaku ke kamu. Akupun begitu, tanpa perlu aku bertanya, aku tahu semua rasa itu masih belum berubah”, ujar Bian dengan suara yang mulai serak.

“Aku tahu, Bi. Aku tahu kenapa kamu mengajakku bertemu sekarang. Kamu tahu, betapa aku merasakan di hempas yang teramat sangat saat ini. Dua tahun aku mencoba berdiri tegar melawan sakit yang timbul. Mencoba menjadi yang terdepan untuk melindungi dua wanitaku itu. Tapi kau juga pasti tahu betapa rapuhnya aku yang sebenarnya. Saat laki-laki pengecut itu datang dan aku menceritakannya padamu, seketika itu pula kamu mengiyakan untukku menerima dia, saat itu aku seperti punya harapan baru. Aku memang sudah tak seharusnya terus berlindung di balik tubuh jangkungmu ini, itu mengapa aku memutuskan mengikuti saranmu, tak harus laki-laki sepertimu asalkan dia seiman dan bisa memuliakanku, ibu dan adikku, itu sudah sangat cukup.  Itu kan yang kamu bilang saat itu padaku. Meski sekarang nyatanya, dia menggoreskan luka baru pada luka yang masih basah, dengan aku berada di sampingmu sekarang, menatapmu dari jarak yang paling dekat, merebahkan penatnya kepalaku di pundakmu dan mendengarkan semua ucapanmu, ini rasanya seperti di suntik obat penenang berdosis tinggi”, ujarku dengan tenang.

Bian tak berkata apa-apa, dia hanya menggenggam tanganku dengan makin kuat. Semakin terasa pula bahwa benda yang melingkar di jemari Bian menekan telapak tanganku. Aku tak bisa berbuat apa-apa lagi. Aku bahagia karena Bian juga bahagia. Melihat Bian dengan tubuh yang sudah mulai berisi pun cukup membuatku tersenyum lega. Dia telah merawat Bian dengan sangat baik. Aku hanya bisa berterimakasih padanya dari dalam hatiku karena dia sudah menggantikan posisiku untuk menjaga Bian.

“Ay, aku sudah merasakan bahagiaku bersamanya. Benar katamu dulu, tak ada bahagia yang lebih dahsyat dibandingkan bersimpuh menghadapNya bersama sosok yang menyebutNya dengan nama yang sama. Kamu juga harus bahagia. Bahagiakan dirimu sendiri. Nikmati apa yang kamu dapatkan sekarang. Pekerjaanmu. Karirmu. Travelingmu. Bahagialah untuk semua itu. Ibumu. Adikmu. Mereka prioritasmu. Ingat kata-kataku, harus benar-benar kamu ingat, aku tak mau mendengar bahwa kau menyerah. Kita masih bisa saling mendoakan. Kamu juga pasti sudah tahu kan kalau aku akan segera menjadi Ayah. Tiga bulan lagi aku akan melihat malaikat kecilku. Dari dalam perut ibunya, aku yakin dia juga ingin mendengar kamu menyebutnya dalam setiap doa baikmu untuknya”, ujar Bian yang aku sambut dengan sebuah anggukan kecil.

Malam ini aku benar-benar menyadari bahwa selama ini hanya Bian yang tetap ada di hatiku bagaimanapun keadaannya. Dialah satu-satunya lelaki yang aku butuhkan dalam hidupku. Tapi selama ini kenyataan selalu berteriak di telingaku bahwa dia juga satu-satunya orang yang tak boleh aku dapatkan. Dialah yang membuatku tahu bagaimana rasanya mencintai seseorang yang tak boleh dicintai. Dulu keadaan seperti ini membuatku merasa bahwa hidup ini tak adil. Tapi malam ini, aku bersyukur bahwa Allah sudah memberikan hidup yang seadil-adilnya untukku dan untuk Bian. Dengan kehidupan yang saat ini dijalani masing-masing, ketika tiga bulan lagi mailakat kecil Bian terdengar suara tangis kencangnya, ada ibunya yang pasti mendampinginya saat dia di baptis. Dan aku? Ketika kelak aku menikah, hamil dan melahirkan mailakat kecilku, aku tak perlu risau karena ada ayahnya yang akan melafalkan Adzan di telinga mungilnya.

Deru mobil yang berpacu dengan suara klakson kendaraan-kendaraan yang sedang lewat menjadi irama yang paling indah di telinga kami. Dan pundak Bian juga masih menjadi tempat ternyamanku untuk merebahkan segala penat dan sesak yang selama ini hanya aku pendam sendiri.


Kamis, 28 April 2016

Aku!

Ada rasa sesak yang menghimpit. Ada rasa penat yang mengakar. Ada rasa jemu yang merajam. Ada rasa ngilu yang menyiksa. Ada rasa pedih yang mengendap.

Kepercayaan yang disalahgunakan. Kesetiaan yang dipatahkan. Kenyamanan yang dienyahkan. Kebahagiaan yang dirampas. Kehilangan yang datang hampir bersamaan.

Tak mudah menjalani dua tahun terakhir ini. Hidup yang tak pernah terbayangkan akan terjadi padaku. Menangis tersedu karena laki-laki yang pertama kali aku lihat saat aku dilahirkan di dunia ini lebih memilih meninggalkan tiga berlian yang selalu dia jaga demi sebutir batu tak bernilai. Merasakan hati yang teramat patah setelah memutuskan untuk membiarkan sosok jangkung berhidung pinokio dan berambut pirang itu mencari sosok wanita yang bisa melafalkan Doa Bapa Kami bersama-sama dalam keluarga kecilnya kelak.  Membuncahnya bahagia saat ada sesosok laki-laki yang menawarkan masa depan tak lama setelah aku meminta padaNya akan sosok yang seiman. Dan menjelang dua minggu kami menjadi pasangan halal, ternyata dia juga memilih pergi, melupakan semua janji yang pernah terpatri, menerbangkan semua harapan dan menghancurkan maket masa depan yang sudah disusun bersama. Tak ada yang tersisa selain bualan-bualan omong kosongnya tentang masa depan yang masih saja terngiang-ngiang dalam telingaku. Tak lama berselang, dia bahkan telah mengucap janji suci dengan sosok lain yang dia bilang adalah sosok ketiga perusak suasana. Tak sadarkan dia bahwa bibit keburukannya akan berbuah hal yang sama di masa depan?

Aku layaknya seorang pesakitan yang membutuhkan udara bebas. Ingin rasanya aku kembali merasakan mengalirnya oksigen secara leluasa dalam darahku tanpa dihimpit sesak. Aku bahkan sudah lupa rasanya tertawa tanpa kepura-puraan. Aku tak lagi tahu apa itu ceria tanpa beban. Tapi aku masih bisa bernafas meski sesak, aku masih bisa berjalan meski terseok-seok dan aku masih sanggup menyiram antiseptik untuk luka di sekujur tubuhku. Inikah mata air di tengah gurun pasir? Inikah jalan buntu yang masih ada lubang tikusnya? Inikah putus asa yang masih berharap?

Tak banyak yang bisa aku lakukan. Bercengkerama denganNya di sepertiga malam terakhir menjadi obat penenang yang lebih dahsyat dibandingkan Alprazolam dan Sernade yang pernah ku telan. Bersujud lebih lama dengan sedu sedan tangis dan merayuNya untuk memberikan kekuatan tanpa batasNya lebih hebat daripada diinjeksi dua ampul Neurobion. Meracau dengan kata dan bermain dengan rangkaian huruf juga bisa menjadi teman baik yang tak akan menceramahiku, mencemoohku atau bahkan mengabaikanku karena menganggap aku terlalu lemah dan tak bisa beranjak dari sedihku.

Aku tak butuh cerita lucu untuk menghasilkan tawa dari bibirku. Aku tak butuh keramaian yang bisa hilang ketika aku pulang. Aku tak ingin mendengar kalimat “sudahlah untuk apa mengingatnya, segera lupakan semua yang telah menyayat luka di tubuhmu”. Aku juga tak mau terus berpura-pura menjadi kuat.

Biarkan saja aku mencoba secara perlahan. Biarkan aku bersahabat dengan waktu. Biarkan aku belajar sambil menjalani waktu tanpa terburu-buru. Biarkan aku menemukan mental bajaku dengan caraku sendiri. Biarkan aku menemukan kekuatanku meski harus menyentuh sumber lukaku. Jangan paksa aku untuk menuntut waktu mempercepat sembuhnya lukaku.

Kemarilah sejenak. Bawakan aku kasa dan betadine untuk mengobati lukaku. Siapkan aku pelukan terhangat saat aku menggigil kedinginan. Sediakan aku payung saat aku basah kuyup terkena hujan. Sokonglah aku dari belakang. Jadilah yang pertama menangkapku ketika aku terjatuh kembali di tengah perjalananku menemui waktu. Dan pinjamkanlah bahumu untuk sejenak aku merebahkan kepalaku yang terasa sangat berat ini.

Aku lelah.

Kamis, 07 April 2016

Sebuah Ungkapan Rasa


Kota ini masih saja setia dengan udara panasnya. Tak peduli pagi, siang atau malam, udara panas tetap menjadi sahabat karib kota ini. Seperti malam ini. Udara panas seperti malam-malam sebelumnya. Tak ada dingin yang merasuk kulit seperti suasana malam di kota kelahiranku.
Malam ini seiring dengan panasnya kota karang ini, ada rasa tak nyaman yang ku rasakan. Entah aku harus menyebutnya apa. Aku tak suka bila harus menyebutnya perpisahan ataupun kehilangan. Terlalu sakit rasanya jika harus berhadapan dengan dua hal tersebut ataupun salah satunya. Tapi tak bisa ku pungkiri, malam ini aku merasakan apa itu namanya perpisahan.
Bagiku kamu seperti saudara perempuanku selama berada di kota ini. Saudara seiman yang seringkali mengingatkanku bila aku mulai melalaikan perintahNya. Saudara yang selalu menggenggam kuat tanganku saat aku merasa takut yang tak berkesudahan. Saudara yang selalu memelukku erat saat aku merasa jatuh dan sakit. Saudara yang selalu bisa membuatku tersenyum dan percaya bahwa aku tak pernah sendiri di sini. Saudara yang tak sedarah tapi darahku juga ikut berdesir jika ada sesuatu hal yang terjadi padamu.
Esok adalah hari dimana kamu meninggalkan kota karang. Meninggalkanku terpapar matahari yang menyengat di kota ini. Meninggalkanku bermain pasir tanpamu. Meninggalkanku menikmati senja-senja indah tanpamu. Meninggalkanku menapaki setiap jengkal garis pantai sendiri. Ahhh..tidak, aku tak menyalahkanmu pergi meninggalkan kota ini dan meraih mimpimu di tempat kerjamu yang baru. Tapi aku hanya merasa kehilanganmu.
Terima kasih saudaraku. Terima kasih selalu bersamaku dalam satu tahun terakhir ini. Terima kasih selalu mengingatkanku untuk lebih dekat denganNya. Terima kasih selalu memberikan tanganmu untuk ku genggam saat aku merasa lemah. Terima kasih selalu memberikanku pelukan saat aku merasa jatuh. Terima kasih selalu membuatku merasa percaya bahwa apa yang aku alami sekarang ini adalah hal terindah yang sudah DIA takdirkan untukku. Terima kasih selalu bersedia mendengar keluh kesahku yang masih saja tentang sosok laki-laki masa laluku itu. Terima kasih selalu membuatku tertawa kembali setelah aku menangis tersedu setiap kita membahas tentang rasa sakit yang sudah timbul karena sosok masa laluku. Semakin aku urai, rasanya tak akan cukup rasa terima kasihku karena kehadiranmu.
Selamat berjuang di kota barumu nanti. Selamat menikmati suasana barumu di sana. Jangan pernah mau dikalahkan sama jarak. Sejauh apapun jarak kita nanti, selama itu masih bisa ditempuh, aku rasa tak ada alasan untuk kita tak saling bersua. Aku akan merindukan bermandikan pasir bersamamu. Aku akan merindukan menapaki garis pantai bersamamu. Aku akan merindukan mengabadikan indahnya senja bersamamu. Aku akan merindukan suasana TnT yang selalu heboh dengan rempongnya kita.  Aku akan merindukan pelukanmu yang selalu bisa menguatkanku. Aku akan merindukanmu, Vidya. Terima kasih sudah menjadi sosok saudara perempuanku yang tak pernah bosan mengingatkanku bahwa luka yang aku rasakan sekarang akan segera mengering. Aku beruntung pernah menghabiskan hari-hariku bersamamu. Jangan lupa mengunjungiku di sini. Kita masih punya janji menjelajah bumi Nusa Tenggara Timur bersama. Semoga Allah selalu melindungi setiap jengkal langkahmu di tempat barumu nanti. Kita akan bahagia dan harus bahagia, Vid. Hal terindah sudah DIA siapkan untuk kita pada waktu tepat yang sudah disusunNya untuk kita. I Love you my unbiological sister.